Teringat pikiran ini
akan empat tahun yang telah terjadi lalu yang mungkin memang hingga saat ini
masih menjadi pengalaman indah dan terkenang dalam hati. Ketika ku merasakan
awal dari sebuah cinta namun tak terbalaskan. Sungguh tragis, kawan.
Pertemuan
awal yang tak pernah ku bayangkan, namun tak ku mengerti jika adanya
pemberitahuan lewat mimpi. Ya, sebelum aku bertemu dengan seorang anak lelaki lugu
berumur 9 tahun dengan tinggi yang saat itu setara denganku dan dengan senyuman
manisnya yang ramah untuk menyapaku. Aku tak tahu mengapa aku telah
dipertemukan lewat sebuah mimpi dan pada saat itu sikapku menjadi salah
karenamu. Mungkin hanya ada satu alasan, ku suka padamu kala itu.
Di
sebuah tempat hiburan tepatnya Taman Remaja Surabaya hari itu ku berjumpa denganmu.
Permainan Boom Boom Car yang menjadi sebuah pilihan. Aku hanya heran ketika
melihatmu dan benar mampu bersua denganmu. Pikiranku melantur dan terus
bertanya-tanya dalam hati kecilku "bukankah dia yang hadir dalam mimpi
semalam?" , pertanyaan yang lain "lalu mengapa ini benar terjadi,
atau memang dia akan menjadi kawan yang sengaja dipertemukan oleh-Nya?"
aku tak mengerti. Namun setiap senyuman yang ia berikan kepadaku hanya
mampu dapat ku balas dengan senyuman pula. Di awal pertemuan ini serasa
keakraban itu telah menyelimuti , namun tak ada perkenalan untuk saling
mengerti siapa diantara kami.
Hari-hari pun terus
berganti dengan lika-liku kehidupan layaknya gelombang laut dengan pasang
surutnya yang justru memiliki arti. Namun meski semua tak seperti yang
teringinkan tetap saja sebuah keceriaan harus tetap menyelimuti. Kerinduan ku
pun kian hari entah mengapa semakin mengarungi hati dan pikiran ini. Dan tiba
pada saat ku berumur 10 tahun, kami bersua kembali tanpa sebuah mimpi di tempat
yang sama dan dengan suasana yang tetap sama saja layaknya awal pertemuan kami.
Aku terdiam dan hanya bisa menunggu. Aku tak mengerti apa yang harus ku
lakukan.
Setelah pertemuan kedua
itu berlangsung , hanya ada kegalauan dalam hari-hariku di setiap hembus
nafasku. Apalagi setelah ada pemberitahuan tentang mimpi bahwa aku akan bersua
lagi. Aku tak mengerti rasa rindu ini memang tak bisa tu dipungkiri. Aku tak
suka dengan hal-hal yang tidak pasti. Dan hari yang telah ku tunggu itu pun
tiba. Ku bersua dengan dirinya dengan tingginya yang semakin hari kian
meningkat dan dengan senyum ramahnya yang menambah kemanisan dari wajahnya.
Di sebuah mall yang tak
jauh dari rumah dimana aku tinggal. Mimpi itu terjawabkan saat itu, kau benar
hadir, kawan. Kau lebih mempesona dari sebelumnya. Namun kau tetap saja dengan
senyumanmu , aku pasrah saja ketika kau hanya mampu tersenyum tanpa kata. Aku
tak tahu pula apa yang harus ku lakukan. Namun pertemuan ke tiga ini serasa
benar singkat dan tanpa kelanjutan. Terakhir senyumanmu seperti tanda ucap
selamat tinggal. Dan memang benar, hingga kini tak ada kabar dari dirimu dan
tak ku mengerti lagi siapa dirimu.
Setiap kali ku
mimpikanmu, tetap saja kau dengan senyumanmu. Mungkin bisa dibilang pertemuan
ketiga itu adalah akhir dari pertemuan kita setelah senyuman selamat tinggal
kau luangkan. Mungkin memang benar hanya ada tiga kesempatan dalam pertemuan,
dan jika tak tergunakan musnah sudah pertemuan itu.
Aku benar ingin mengerti
siapa dirimu. Meski memang ku tak perlu megerti tentang ceritamu. Ingin sekali
ku bercerita denganmu. Dan memang ku ingin bersahabat denganmu. Ya, kau adalah “Sahabat
Kecilku” yang pernah bersua dengan diriku tanpa perkenalan dan hanya sebuah
senyuman yang dapat tersampaikan namun tetap mewakili arti perkataan yang akan
terucapkan. Sungguh penuh makna dari setiap pertemuan itu.
Setiap ku dengar lagu “Sahabat
Kecil” entah mengapa ku teringat akan dirimu. Dari awal kita bertemu, hingga
pertemuan ketiga yang mungkin adalah akhir dari senyuman sapaanmu. Ya, lagu ini
cukup mewakili kerinduanku dan ceritaku bersamamu, kawan.
Terkadang aku berharap
tuk bertemu denganmu, menyapamu dengan ramah, berkenalan denganmu, dan menjadi
sahabatmu, kawan. Dan aku harap pula Tuhan mau mendengar permintaan ini yang
aku harap aku pun mampu tuk manfaatkaannya. Hmm.. Kau memang misterius, tapi
kau benar penuh keramahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar