Blogger Widgets Summary of My Story And My Inspiration: Bersua Tanpa Kata Penuh Makna

Sabtu, 14 April 2012

Bersua Tanpa Kata Penuh Makna


Teringat pikiran ini akan empat tahun yang telah terjadi lalu yang mungkin memang hingga saat ini masih menjadi pengalaman indah dan terkenang dalam hati. Ketika ku merasakan awal dari sebuah cinta namun tak terbalaskan. Sungguh tragis, kawan.

Pertemuan awal yang tak pernah ku bayangkan, namun tak ku mengerti jika adanya pemberitahuan lewat mimpi. Ya, sebelum aku bertemu dengan seorang anak lelaki lugu berumur 9 tahun dengan tinggi yang saat itu setara denganku dan dengan senyuman manisnya yang ramah untuk menyapaku. Aku tak tahu mengapa aku telah dipertemukan lewat sebuah mimpi dan pada saat itu sikapku menjadi salah karenamu. Mungkin hanya ada satu alasan, ku suka padamu kala itu.

Di sebuah tempat hiburan tepatnya Taman Remaja Surabaya hari itu ku berjumpa denganmu. Permainan Boom Boom Car yang menjadi sebuah pilihan. Aku hanya heran ketika melihatmu dan benar mampu bersua denganmu. Pikiranku melantur dan terus bertanya-tanya dalam hati kecilku "bukankah dia yang hadir dalam mimpi semalam?" , pertanyaan yang lain "lalu mengapa ini benar terjadi, atau memang dia akan menjadi kawan yang sengaja dipertemukan oleh-Nya?" aku tak mengerti. Namun setiap senyuman yang ia berikan kepadaku hanya mampu dapat ku balas dengan senyuman pula. Di awal pertemuan ini serasa keakraban itu telah menyelimuti , namun tak ada perkenalan untuk saling mengerti siapa diantara kami.

Hari-hari pun terus berganti dengan lika-liku kehidupan layaknya gelombang laut dengan pasang surutnya yang justru memiliki arti. Namun meski semua tak seperti yang teringinkan tetap saja sebuah keceriaan harus tetap menyelimuti. Kerinduan ku pun kian hari entah mengapa semakin mengarungi hati dan pikiran ini. Dan tiba pada saat ku berumur 10 tahun, kami bersua kembali tanpa sebuah mimpi di tempat yang sama dan dengan suasana yang tetap sama saja layaknya awal pertemuan kami. Aku terdiam dan hanya bisa menunggu. Aku tak mengerti apa yang harus ku lakukan.

Setelah pertemuan kedua itu berlangsung , hanya ada kegalauan dalam hari-hariku di setiap hembus nafasku. Apalagi setelah ada pemberitahuan tentang mimpi bahwa aku akan bersua lagi. Aku tak mengerti rasa rindu ini memang tak bisa tu dipungkiri. Aku tak suka dengan hal-hal yang tidak pasti. Dan hari yang telah ku tunggu itu pun tiba. Ku bersua dengan dirinya dengan tingginya yang semakin hari kian meningkat dan dengan senyum ramahnya yang menambah kemanisan dari wajahnya.

Di sebuah mall yang tak jauh dari rumah dimana aku tinggal. Mimpi itu terjawabkan saat itu, kau benar hadir, kawan. Kau lebih mempesona dari sebelumnya. Namun kau tetap saja dengan senyumanmu , aku pasrah saja ketika kau hanya mampu tersenyum tanpa kata. Aku tak tahu pula apa yang harus ku lakukan. Namun pertemuan ke tiga ini serasa benar singkat dan tanpa kelanjutan. Terakhir senyumanmu seperti tanda ucap selamat tinggal. Dan memang benar, hingga kini tak ada kabar dari dirimu dan tak ku mengerti lagi siapa dirimu.

Setiap kali ku mimpikanmu, tetap saja kau dengan senyumanmu. Mungkin bisa dibilang pertemuan ketiga itu adalah akhir dari pertemuan kita setelah senyuman selamat tinggal kau luangkan. Mungkin memang benar hanya ada tiga kesempatan dalam pertemuan, dan jika tak tergunakan musnah sudah pertemuan itu.

Aku benar ingin mengerti siapa dirimu. Meski memang ku tak perlu megerti tentang ceritamu. Ingin sekali ku bercerita denganmu. Dan memang ku ingin bersahabat denganmu. Ya, kau adalah “Sahabat Kecilku” yang pernah bersua dengan diriku tanpa perkenalan dan hanya sebuah senyuman yang dapat tersampaikan namun tetap mewakili arti perkataan yang akan terucapkan. Sungguh penuh makna dari setiap pertemuan itu.

Setiap ku dengar lagu “Sahabat Kecil” entah mengapa ku teringat akan dirimu. Dari awal kita bertemu, hingga pertemuan ketiga yang mungkin adalah akhir dari senyuman sapaanmu. Ya, lagu ini cukup mewakili kerinduanku dan ceritaku bersamamu, kawan.

Terkadang aku berharap tuk bertemu denganmu, menyapamu dengan ramah, berkenalan denganmu, dan menjadi sahabatmu, kawan. Dan aku harap pula Tuhan mau mendengar permintaan ini yang aku harap aku pun mampu tuk manfaatkaannya. Hmm.. Kau memang misterius, tapi kau benar penuh keramahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar