Blogger Widgets Summary of My Story And My Inspiration: 2012

Rabu, 12 Desember 2012

SEBILAH PISAU TAJAM

Sebuah inspirasi di masa kelabilan kelas tujuhnya anak menengah pertama, beginilah..

SEBILAH PISAU TAJAM


Ketika burung-burung berkicau riang gembira disertai goyangan pohon yang memberi kesegaran, seorang diri meratapi dan merenungi serta menekuni lamunannya hingga terlalu dalam. Namanya, Fajar.  Seseorang yang selalu merasa rendah karena perbuatannya, yang menurutnya sangat memalukan.  Kemudian sahabatnya yang setia mendampinginya, Fathir, menghampiri dengan rautan wajah penuh keceriaan dan menyapanya.
“Hei Fajar! Janganlah kau murung melulu, tengok masa depanmu, kawan! Panjang!”
“Panjang katamu? Setelah menjadi musuh dalam selimut bagi mereka dan menjadi bahan cercaan di negeri ini? Memalukan, miris sekali rasanya. Kau tahu rasanya dipermalukan ha? Sedangkan aku tak melakukannya?”
“Sudahlah, lupakan semua itu, jernihkan pikiranmu, kawan! Memang benar, kau tak melakukannya dan karena itu kau harus buktikan pada negeri ini! Ini saatnya!”
“Tidaklah, lebih baik aku seperti ini, merawat dan melestarikan alam sekitar. Bersahabat dengan alam dan cintai bumi. Baik bukan? Daripada aku harus membuat hal-hal yang merugikan lagi? Lebih baik seperti ini, sejuk damai dan indah.”
“Kau merawat tanaman-tanaman ini bukan karena kau mencoba tuk mengingat kekasihmu yang menghianatimu kan?”
“Aku tak mengerti, hanya kedamaian yang ku dapat setiap ku melihat tanaman-tanaman ini. Meski memang itu hanya sesaat dan sedikit memberi sebilah pisau yang tajam pada hati.”
“Itu semua karena kau tak pernah mafhum dan terlalu mudah diperdaya cinta yang semata-mata membutakan kau, kawan! Sebilah pisau yang tajam itu bisa terkendali asal kau memanfaatkannya sebaik mungkin! Bukan berarti sebilah pisau tajam itu adalah luka yang melara. Ingat banyak yang membutuhkanmu di luar sana!”
“Membutuhkanku katamu?”
“Paling tidak untuk saat ini dan selanjutnya.”jawaban singkat penuh tanda tanya oleh seorang Fathir.
Setelah perdebatan yang begitu menggencarkan, Fajar dan Fathir berjalan menuju daerah perkampungan rumahnya. Seiring perjalanan, banyak sekali bualan yang membuat Fajar tak ingin mendengarnya, namun Fathir selalu setia untuk mengingatkannya. Sabar dan sabar.
Sesampainya di suatu rumah, tak disangka ada seorang kawan lama yang sedikit terlupakan oleh seorang Fajar dan tak dimengerti akan kedatangannya, namun Fathir hanya tersenyum karena ia mafhum dengan hal ini. Heidi, kawan lama seorang TNI yang sangat akrab dengan mereka berdua.  Setelah lama tak bersua, mereka berbincang sembari terlihat sedikit tawa yang terlihat menghibur, sampai pada akhirnya inti dari pertemuan itu dibicarakan.
“Fajar, berapa lama kau kurung diri di perkampungan semacam ini?”tanya Heidi basa-basi.
“Entahlah.”singkat sekali.
“Saatnya kau tunjukkan pada negeri bahwa kau tak bersalah, aku mengerti itu.”
“Bagaimana bisa? Apa daya yang aku punya?”
“Keyakinan, kawan. Kau pasti bisa! Cobalah kau jujur pada mereka semua, tentang cinta kau juga, pastilah mereka mengerti.”
“Aku tak bisa, memang aku punya keyakinan dan aku bisa saja jujur pada mereka semua, tapi..”
“Mari kita berjuang bersama melawan Amerika, setelah itu kau boleh jujur pada negeri ini, bahwa kau bukan pelakunya! Jika tak seperti itu, kapan lagi? Negeri ini pun sudah terancam, kawan!”
“Bagaimana bisa? Jika aku mati, apa aku bisa jujur?” tanya Fajar yang menurut logika benar juga. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Fathir. “Kau melihatnya?” 
Namun sayangnya, Fathir hanya tersenyum kecil dan segera keluar dari rumah.  Heidi kemudian Fajar mengikuti langkahnya menuju sebuah tenda, yang mereka sebut benteng. 
Dalam tenda itu perbincangan yang sangat panas terjadi, namun kemudian terhenti ketika mereka bertiga datang. Bersalaman dan kembali menyusun rencana. Fajar melihat disekelilingnya, foto-foto potret diri seorang tokoh-tokoh pahlawan perjuangan yang telah gugur membela tanah air, ia merasa malu pada mereka semua. Dalam hati kecilnya ia berjanji, “Aku berjanji akan membanggakan kalian, menghargai kalian sebagaimana semestinya. Aku akan membela tanah air dengan segenap kemampuanku, Tuhan dengar janjiku dan kabulkan keinginanku.”  Fathir lagi-lagi tersenyum kecil melihat sahabatnya yang sedang berjanji pada dirinya sendiri. Bagi Fathir, Fajar pasti bisa. 
Kembali fokus pada perbincangan yang menyengat, taktik-taktik telah tercurahkan. Sedikit pertanyaan dan pernyataan yang terlontarkan dari mulut ke mulut. Heidi, tokoh yang cerdas terus menerus mencurahkan taktiknya dan mempertimbangkan segala kepastian. Memang Fathir melihat, bahwa negara ini memenangkannya, tapi tanpa usaha juga akan musnah kan?
Kabar dari seorang asisten jendral bahwa Amerika telah melakukan serangannya. Semua terkagetkan segera berhambur dan merespon serangan. TNI yang telah ditugaskan mencari tempat masing-masing. Ya, sesuai rencana, taktik berjalan dan saling tembak menembak pun terjadi. Benar menakjubkan. Amerika begitu hebat dengan senjatanya, meski taktik nol jika diperhitungkan.
Tembak-tembakan terus terjadi. Tak disangka Fathir terluka, dia merasa dia tak mampu untuk melakukannya, beruntungnya Fajar datang dan menolongnya serta berusaha meyakinkannya.
“Aku tak bisa tapi kau harus tetap melakukannya.”
“Kau pasti bisa, Fathir! Kau yang meyakinkanku, kau yang menguatkanku hingga saat ini! Aku janji akan jujur dan berusaha menceritakan semuanya pada publik, sahabat!”
“Kau janji, Fajar?” Fajar hanya mengangguk. “Hubungi tim medis setelah itu kita berjuang bersama kembali!”  Fajar tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya.
Setelah memanggil  tim medis dan menangani luka yang lumayan parah setelah tembakan itu, mereka kembali berjalan menuju tempat penyerangan.Namun tak lama,  langkah mereka terhenti setelah Heidi menahan dan merencanakan taktik baru yang ditunggu-tunggu seorang Fathir. Ya, Fajar yang bagi pihak mereka dianggap remeh dan bisa saja berpihak pada Amerika, kini diperintah Heidi untuk mengikuti pihak Amerika dan menyelidiki rencannya. Fajar hanya bisa mengiyakan dan segera melakukan.
Pihak Amerika benar-benar keras kepala dia benar-benar ingin menguasai Indonesia dengan apapun yang ia punya. Fajar terus mengonfirmasi Heidi dan Fathir tentang berita yang ia dapat. Detik-detik cepat berlalu, rencana Amerika untuk mengebom negara ini akan segera terlaksana. Fajar terus menerus berpikir, dan akhirnya dia menemukannya, kurang 5 menit.
Dia menghubungi Fathir dan Heidi untuk mengikuti Fajar dipihak Amerika dan menembak pasukan,  kemudian membiarkan bom tetap di benteng Amerika. Setelah tinggal beberapa detik, mereka bertiga keluar dan menyaksikan ledakan bom yang begitu besar menghantam benteng pertahanan Amerika. Namun tak disangka-sangka, Jendral Amerika itu belum habis riwayatnya. Jendral itu menyerahkan kemenangan di tangan Indonesia. Tapi, Fajar tak puas, ingin rasanya ia melawan Jendral tersebut yang telah mengubah kehidupannya selama beberapa tahun. Tapi Fathir, setia untuk mengingatkannya. 
Kemenangan Indonesia ini menjadi topik paling hangat di dunia. Dan sesuai janjinya, Fajar jujur serta menceritakan tentang yang sebenarnya di depan para wartawan televisi serta koran yang sedang meliput.
“Kejadian 5 tahun yang lalu adalah sebuah kesalah pahaman. Aku yang diberitakan membunuh Kolonel Amerika dan menjadi cercaan warga Indonesia, itu salah besar. Ya, bukan aku yang membunuhnya, tapi dia.” Sembari menunjuk ke arah Jendral Amerika yang sedang diborgol tangannya sebagai tahanan. “Karena cinta ku melakukannya, benar karena cinta. Istrinya memintanya agar aku yang menjadi tersangkanya, karena istrinya mencintainya. Namun apa daya, aku tak bisa menolaknya meski memang benar aku harus menanggung akibatnya.” Kelegaan dan tepuk tangan riuh menyertainya. 
Fathir dan Heidi menghampiri serta memeluknya. Batin Fajar, “Para pahlawan, memang kau adalah teladanku, kejujuran , keyakinan , ketabahan , serta kebersamaan rasa cinta terhadap sesama mampu untuk menaklukkan segala masalah yang dilanda. Dan sebuah niat yang sangat teguh, selalu setia untuk mendukungnya. Terimakasih, Tuhan. Engkau telah memberikan yang terbaik diantara yang terbaik.”
Fathir yang tak sengaja meneteskan air matanya mencoba mafhum akan yang dilakukan sahabatnya. Lagi-lagi ia tersenyum dan berterimakasih pada Tuhan atas segalanya. Heidi mencoba mencairkan suasana.
“Hei kawan, tengoklah tengok! Tandus bukan? Mari kita menanam kembali, ya.. reboisasilah. Cintai alam. Benar bukan, Fajar sang pecinta lingkungan?”
“Benar, Fajar. Kini kau harus pakai ilmu bercocok tanammu dan ajarkan pada kita!”kata Fathir disertai sedikit tawa.
Tawa kemudian meledak seketika sembari memperhatikan alam sekitar yang memang benar tandus karena serangan kemarin yang begitu besar.  Tak ada salah, jika kita merawat kembali dan mencoba untuk cintai bumi. Paling tidak kita juga bertanggung jawab setelah melakukan ulah saling bertembak.  
Ya, seperti sebilah pisau yang tajam. Dari keterpurukan sang Fajar yang hanya bisa berkarya melalui alam dan pada akhirnya ketajaman itu memberi sepercik tetesan darah kehidupan dari sebuah keyakinan yang menguatkan memberi celah cahaya harapan kehidupan melalui kejujuran yang pada akhirnya terungkap dengan dukungan kebersamaan dari para sahabatnya.  Tuhan memang selalu memberi rencana yang terbaik diantara yang terbaik. 

SELESAI

IMPIAN SANG PENARI

Sebuah inspirasi di kelas 8, dimana ku hanya mampu menuliskan tentang cinta tanah air dan cara membahagiakan orang lain seperti ini..



Impian Sang Penari

“Kring... Kring... Kring...” 
Bel sekolah terdengar keras sebagaimana sebuah tanda pelajaran selesai.  Dengan segera, aku keluar kelas.  Ku pandangi sosok bendera merah putih yang berkibar dengan elok nan beraninya.  Entah mengapa, batinku berbicara bahwa aku cinta Indonesia dan aku harus bisa mengharumkan nama bangsa, aku juga ingin membanggakan kedua orang tuaku di alam sana.
Aku berjalan setapak demi setapak menyusuri langkah menuju gubuk tercinta.  Cukup jauh jika dibayangkan, namun aku tak ingin kenal menyerah, karena aku selalu ingin kenal semangat. Tak lama aku tiba di rumah.  Mulailah aku dengan segala aktivitasku sebagaimana kesendirianku dalam sepi, namun juga dengan segala warna hidupku. 
Esok hari, burung-burung berkicau ria seraya menyambut cerianya pagi yang cerah. Angin berhembus tenang dan pepohonan bergoyang dengan damai yang selalu setia menemaniku di kala semangatku yang membara untuk bersekolah.  Di sekolah, terpapang jelas di mading sebuah pengumuman pendaftaran siswa teladan.  Aku terdiam, dan dalam benak pikiranku mulailah melayang-layang.  Andai ada seleksi penari terbaik, aku ingin sekali menjadi sosok penari profesional. Mungkin saja dari siswa teladan ini Tuhan membawaku menjadi penari terbaik. Namun apakah aku bisa menjadi siswa teladan?  Apakah dengan ini orang tuaku akan bangga?  Apakah dengan ini aku mampu harumkan nama bangsaku?  Tak lama saat ku terdiam, sosok perempuan sebaya menatapku sinis, aku menyadari keberadaan dirinya, ia bernama Sharon, ia sangat kondang dengan segala yang ia miliki, ia memang pandai, tapi kesombongannya membuat orang tak suka padanya.  Kemudian ia mulai berkata pada diriku,
“Kenapa kau di sini?  Mau nengok pengumuman pendaftaran siswa teladan?  Oh, rupanya kau mau daftar?  Ambil sana kaca, janganlah kau mimpi ketinggian!”
Tanpa sepatah kata, aku memalingkan wajah dan langsung berlari.  Berhentilah diriku di sebuah taman sekolah yang sepi.  Aku menangis tersedu-sedu, entah mengapa.  Tiba-tiba tersentuhlah pundakku oleh sosok guru yang berdiri dengan ramahnya di belakangku. Seketika ia tersenyum, senyumannya sangat mempesona sebagai obat jiwa dan pelepur luka.  Sedikit demi sedikit kata yang ku rasakan mulai ku curahkan padanya.
 “Lakukan apa yang terbaik untukmu, nak!.  Raihlah segala mimpimu selagi engkau bisa.  Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.  Jika Ia sudah berkehendak, maka semua akan berjalan dengan apa adanya.  Hadapi rintangan itu, dan buktikan bahwa engkau bisa! Buktikan pada dunia kau mampu harumkan nama bangsamu.  Buatlah kedua orang tuamu selalu tersenyum di sana”.  Tutur dirinya.
Dari situ, aku mulai lega.  Aku mampu tersenyum kembali.  Beliau memanglah guru terbijak yang pernah aku temui.  Setiap tutur kata yang ia ucapkan, selalu menenangkan setiap orang layaknya air yang mengalir dengan damainya.  Beliau bernama Bu Bunga. Seperti namanya, dirinya yang elok karena wajahnya yang selalu menggugah jiwa.  Bersama Bu Bunga aku menuju kelas.  Formulir pendaftaran satu per satu dibagikan, besok data harus sudah terisi lengkap jika anak tersebut ingin mengikuti seleksi.  Pelajaran selesai seperti biasa.  Tetap saja aku pada kebimbanganku hingga saat tibanya aku di rumah. 
Aku duduk.  Lalu aku mulai berandai-andai.  Andai di gubuk kecil ini ada sosok ibu dan ayah yang menemani diriku dalam hari-hariku. Andai di dalam kebimbanganku ada sosok ibu dan ayah yang membimbingku untuk mengambil langkah dan temukan pilihan. Andai dalam sedihku ada sosok ibu dan ayah yang menghiburku hingga diriku tertawa lepas sebagaimana diriku tertawa di kala dulu.  Dan andai kini ku bersama ibu dan ayah.  Aku rindu akan belaian kasih sayang mereka.  Aku benar-benar rindu dengan semua yang dulu pernah kulalui.  Dalam memori pikiran dan hatiku selalu terbayang kisah masa kecilku yang berlalu bersama mereka.  Namun kini....?  Tuhan, mengapa secepat itu Kau renggut nyawa mereka? Sehingga Kau biarkan masa remajaku sendiri dimana kegalauanku teruji?  Mengapa Tuhan? Ah, sudah cukup.  Berhentilah dari semua perandaian dan keluh kesah yang tak seharusnya ku bayangkan.  Aku tak akan biarkan orang tuaku menangis di sana.  Berjanjilah untuk membuat mereka selalu tersenyum dengan keadaan dirimu, dari mulai kini hingga seterusnya, dengan hari-hari yang penuh semangat dan mimpi-mimpi indah. 
Tak henti-hentinya ku pandangi formulir pendaftaran siswa teladan.  Ketika aku tersenyum, mulailah ku tuliskan identitas diriku dengan pena yang sedang mencoret selembar kertas penuh tantangan.  Lengkaplah formulir tersebut serta lengkaplah pula keyakinanku bahwa aku pasti bisa.  Segera ku buka buku ilmu sebagai sumber panutan belajarku. Aku belajar keras dengan keyakinan.  Esok aku akan mengalami seleksi dimana jika aku berhasil aku akan mewakili sekolah di tingkat kecamatan. Entah sampai kapan aku selalu bahagia dalam sepiku dengan semangat untuk maju.
Hari ini, tes berlangsung.  Aku merasa gagal karena aku tidak dapat menguasai semua materi.  Ya, aku gagal.  Aku tidak dapat mewakili sekolah. Sharon dengan senyum sinisnya menatapku sebagai tanda kemenangan dirinya. Aku tertunduk, bukan karena malu, namun karena aku gagal dalam mimpi indah itu.  Apa mungkin karena aku terlena dengan apa yang terjanjanjikan dalam pengumuman siswa teladan kemarin?  Aku berjalan menuju mading, “Lomba Tari Tradisional se-Jawa Timur”.  Apa memang ini yang disebut rencana Tuhan? Ataukah ini hanya cosmological coincidence yaitu kebetulan yang dirancang alam?  Entah apapun itu, kini aku harus benar-benar buktikan.  Ku temui Bu Bunga, dan kita berlatih di aula bersama. Tari tradisional? Aku pilih Tari Remo. 
Dua minggu berlangsung begitu cepat.  Aku mempersiapkan diriku dengan tata rias dan tata busana yang telah tertata rapi.  Aku mulai deg-degan karena setiap peserta menampilkan kemampuan dengan gerak-gerik mereka yang dinamis nan elok lemah gemulai. Peserta yang mengkuti memang begitu banyak.  Dan aku adalah peserta terakhir.   Aku pun tak mafhum mengapa aku mendapat nomor terakhir. Tapi aku harus tetap yakin, sebagai akhir aku harus tampilkan yang terbaik. Dan Bu Bunga pun selalu setia menemaniku serta menyemangatiku.
Tiba saatnya aku menampilkan diri.  Sorak-sorai penonton menyertai penampilanku, hingga membuatku lebih terpacu untuk menampilkan yang terbaik.  Ku ekspresikan diriku di atas  panggung dalam beberapa menit dengan alunan musik serta hentakan bunyi gongseng di kakiku sebagai pengemat irama.  Selesai sudah penampilanku.  Penonton kembali bertepuk tangan.  Selang beberapa menit kemudian, saatnya para dewan juri berunding untuk menentukan sang jawara.
Dewan juri maju dan memberi komentar kepada seluruh peserta dengan sebuah kesimpulan serta sebuah keputusan.  Tak disangka ketika dewan juri menyebut namaku sebagai jawara.  Aku tersentak kaget,  ku peluk erat Bu Bunga sebagai tanda kebahagiaanku. Aku akan maju menuju tingkat nasional.  Aku akan masuk asrama dimana aku berlatih tiap harinya karena aku dituntut untuk menguasai tari tradisional daerahku.  Dalam lomba tingkat nasional, setiap peseta wajib menampilkan tiga tarian daerahnya tetapi panitia yang menentukan. 
Satu bulan kemudian, bertepatan di Jakarta, aku telah siap mengikuti lomba tingkat nasional tersebut. Layaknya kupon undian, tertulis dari Jawa Timur, Tari Topeng Bapang, Tari Jejer Gandrung, Tari Remo.  Saat penampilanku, pendukung Jawa Timur bersorak sorai seraya memberi tepuk tangan.  Aku menari dengan rasaku, iramaku, jiwa dan ragaku.  Ku lampiaskan semuanya di atas panggung itu. 
Menari, seperti mencurahkan isi hati ini dimana aku mampu menemukan kebebasan dalam sepi yang selama ini ku alami. Menari, seperti bermimpi dalam bayang diri yang tak bisa tuk dipungkiri dalam benak hati ini.  Akhirnya dewan juri mengumumkan jawaranya. Aku tersenyum, namun tak sengaja ku teteskan air mata saat mereka berkata aku sebagai jawara untuk mewakili Indonesia menuju tingkat internasional.
Aku kembali bertanya pada batin diriku, “Apakah aku benar-benar bisa membawa nama Indonesia dengan baik? Dan apakah aku benar-benar bisa untuk menjaga keharuman nama bangsa?” Keyakinanku sedikit tergoyang.  Memoriku kembali ke masa laluku mulai dari kenangan indah itu, hingga pengalaman pahit yang cukup lama ku jalani sendiri.  Tidak, aku tidak sendiri.  Hingga aku di sini, selalu ada Bu Bunga yang selalu menyemangati diriku dalam keterpurukanku.  Ku ingat kembali tutur kata yang pernah terucapkan oleh beliau. Semangatku kembali membara layaknya kobaran api, saatnya ku tunjukkan pada dunia, bahwa aku bisa.
Masa-masa berlalu dengan menyenangkan bersama para pelatih ketika aku berlatih keras untuk mempelajari seluruh tarian daerah budaya Indonesia.  Tiba-tiba kabar burung yang bernyanyi dengan riuhnya beredar.  Dari layang itu tertulis tentang sakit parah yang dialami Bu Bunga.  Seketika itu juga aku meminta untuk kembali ke kampung dan menengok beliau.  Perasaanku resah dengan segala kemungkinan yang aku takuti.  Saat aku tiba, bendera putih berpalang merah sudah berkibar di depan rumah Bu Bunga.  Aku menangis karena aku tak mampu menahan rasa duka ini.  Haruskah aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi untuk ketiga kalinya?  Absurd rasanya jika aku bisa melewati semua ini sendiri. Kembalinya aku ke Jakarta, aku tetap saja pada keterpurukanku. Aku terjatuh dalam luka dalamku. 
Hingga dalam tidurku aku bermimpi dengan tangisan kesendirianku, ku temukan ibu dan ayahku yang tersenyum penuh kesejukan. Di sebuah taman kami bermain bersama, rasanya seperti mengulang masa lalu itu.  Ibu berkata, “Ibu bangga mempunyai anak sepertimu.  Tapi langkahmu masih panjang nak, tidak hanya sampai di sini. Jangan lupa sembahyang dan selalu bersyukur kepada-Nya dengan segala yang Ia berikan.” Kemudian ayah menyambung, “Jangan terlalu terlarut dalam kesedihan, hadapi segala yang ada di depan mata, buktikan bahwa kamu bisa melakukannya.  Kembalilah, Indonesia menunggumu untuk tetap harumkan nama bangsa. ” Kami berpeluk erat melepas rindu yang selama ini baru dapat terbalaskan.
Saatku terbangun, para pelatih sudah ada di kamar inapku.  Sebentar lagi kami berangkat menuju bandara. Festival di Jepang telah menanti.  Aku tidak banyak berharap, karena pasti para pesaing sangat hebat dengan tari khas tradisional mereka yang dikembangkan.  Aku pasrah, biarkan Tuhan yang mengatur semuanya.  Karena, semua tak selalu berjalan selarasnya.
Berdetak kencang jantungku saat detik-detik menuju penampilanku.  Nama Indonesia dipanggil.  Di sinilah penentuan dimana berhasil tidaknya diriku.  Aku selalu berusaha untuk tampilkan yang terbaik semaksimal mungkin.  Aku hanya ingin menunjukkan pada dunia tentang bagaimana indahnya kebudayaan Indonesia.  Aku bangga dimana aku mampu mengangkat dan mengembangkan budaya bangsa, serta bagaimana cara aku melestarikannya. Tiada henti-hentinya bersyukur saat aku masih berada di sini. Terimakasih Tuhan, ini sudah lebih jauh dari cukup, namun izinkanlah aku membawa nama negariku untuk menjadi yang terbaik.
Kali ini seorang pembawa acara yang mengumumkan kejuaraannya.  Aku benar-benar pasrah.  Biarkan semua itu berlalu layaknya air yang mengalir dengan pasang surutnya. Karena terlalu absurd jika aku bisa mendapatkan lebih dari sekedar pasang surutnya air itu.  Namun memang tidak seperti pasang surutnya air itu, ini seperti ombak yang menerpa dengan derasnya, yang membuatku tersentak menangis terharu karena ku tak percaya saat pembawa acara berkata,
“The profesional dancer is from Indonesia! Congratulation to Indonesia!”
Aku maju ke atas panggung dengan senyum kebahagiaan dan dengan sorak sorai serta tepuk tangan yang riuh dari penonton dan para peserta.  Aku menerima piala penghargaan serta uang pembinaan. Entah ataukah itu hanya karena aku terbelenggu dalam bayang semu yang selalu ku pikirkan. Aku melihat sosok ibu dan ayah yang tersenyum serta menangis dengan terharu.  Aku melihat sosok Bu Bunga dengan senyumnya yang mempesona serta memberi acungan jempol pada diriku.  Ku balas senyuman mereka, hanya sedikit kata yang mampu ku ucapkan.
“Sebelumnya, ku ucap rasa syukurku ini.  Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terimakasih untuk ibu, ayah, dan Bu Bunga yang berada di alam sana.  Terimakasih untuk Indonesia tercinta.  Terimakasih juga untuk semua yang membimbingku dan setia menemaniku untuk menyemangatiku hingga aku bisa berada di sini.  Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa, karena aku hanyalah sosok diri dalam sepi kesendirianku.  Aku di sini karena aku yakin. Dan piala penghargaan ini untuk Indonesiaku!”
Turunnya aku dari panggung, aku disambut para pelatihku serta para kru dari Indonesia.  Kami saling merangkul sebagaimana sebuah pelampiasan rasa lelah yang hilang dengan kebahagiaan.  Kami semua kembali ke Indonesia dengan rasa bangga.  Semua itu memang seperti pohon yang menerima cahaya untuk meletakkannya di tempat yang benar dan bagaimana pohon itu memprosesnya agar matang sehingga kesempurnaan itu tercipta dengan sendirinya.  Setiap langkah yang ku ambil pun seperti roda yang berputar.  Selalu ada dentuman-dentuman yang tak terbayangkan.  Namun jika kita percaya bahwa kita bisa, apa yang kita impikan pasti terwujudkan dengan porsi yang telah Ia atur sebelumnya. 

Seperti mimpiku sebelumnya, menjadi sosok penari yang profesional hingga internasional mengenali diriku.  Seperti mimpiku sebelumnya yang awalnya berawal dari sebuah hobi semata yang kemudian mengembangkannya.  Indonesia benar-benar kaya akan ragam budaya tinggal bagaimana cara kita melestarikannya. 
“Aku bangga menjadi anak bangsa yang mampu merenggut mimpi indahku dan aku bahagia jika orang-orang yang aku sayangi bangga dengan hasil yang aku raih.  Aku, cinta Indonesiaku”, ucap batinku.


-TAMAT-

Rabu, 25 April 2012

Matahari dan Pelangi Hidupku

    Setiap berjalannya detik ke detik dan jarum jam yang berputar serta hari-hari yang terus berganti. Aku tak pernah bosan dengan hidup ini. Dengan segala rintangan yang terlalu banyak untuk dihadapi. Senang, sedih, suka, maupun duka selalu saja menemani. Ya, itu semua akan tetap membuatku bertahan karena sahabat yang selalu menemaniku dan mengisi serta menuliskan lembaran kisah-kisah baru dalam buku kehidupanku.

    Inilah sahabat-sahabatku yang setia menemaniku memberi warna dan pancaran sinar di hidupku :)

 1. Revan dan Tian
           Mereka adalah sahabat terdekatku semasa taman kanak-kanak , dari merekalah awal ku mengerti arti persahabatan. Ingin ku bertemu mereka kembali. Namun sang waktu memisahkan kita pada saat itu. Kita tinggal di kota yang terpisahkan dan meski jaringan sosial telah muncul, tak ada kabar dari mereka.
           Aku masih ingat, dimana masa kita mendapat hukuman bersama karena kenakalan kita. Aku juga masih ingat waktu kita mencorat-coret muka kita dengan warna crayon dan lagi-lagi di hukum bersama. Benar ku merindukan kalian, apalagi masa-masa kita.
          Revan, anak yang berkulit sawo mateng, banyak yang bilang manis, pintar sekali ngedrum, kocak, romantis waktu denger ceritanya sama si mantannya, tapi nakalnya nggak ketulungan. :))
         Tian, anaknya putih, pendek entah kenapa padahal adiknya pada tinggi semua, wajahnya seperti keturunan Cina tetapi tanpa turunan pula, agak ceroboh, lucu dan nakalnya ngelebihin si Revan. hehe :))

2. Gerraldo Valentino Verant
           Nah ini adalah sahabatku yang paling nguerti aku. Dia udah seperti kakakku dan aku menyebutnya emang kakak. Dia ini diemnya hanya pada saat tertentu, tapi selebihnya ya gitu itu :))
 
           Anak ini kocaknya minta ampun, tapi nggak seberapa nakal, dewasa banget orangnya, kalau diajak curhat enak banget, ini orang tinggi banget, baik + pinter juga apalagi bahasa inggrisnya, sedikit misterius, paling ahli kalau disuruh otak-atik komputer sampai-sampai warnet sebelah rumahnya minta tolong ke orang yang satu ini. Aku juga punya sebutan ke dia, ya sebutan istimewa "Kak Guguk" hehe :)) Adeknya unyu banget, namanya Steven. Nah Si Guguk ini sempet disukain juga sama sahabatku yang deket juga sama aku, ini dia :

3. Alyssia Miftahul Nurzaifiyanti
             Ini adalah sahabat yang sampai sekarang tetap dekat sama aku, mamanya juga. Anak ini baiknya pol, rajin, sedikit ceroboh, bingungan, kalau cerita selalu flashback jadi inget yang dulu-dulu. Dia kalau curhat gak berhenti-berhenti. Aku masih inget aku juga pernah tengkar sih sama anak ini.. tapi sudahlah itu hanya kesalah pahaman. :))

                 Manis banget anak ini, tingginya setara sama aku tapi sedikit lebih tinggi dia. Kulitnya sawo mateng. Dan kita selalu saling membandingkan antara kulit, dan tinggi. haha. Dia ini anak tunggal, penurut banget dan selalu disiplin. Nah , Aku dan Mifta ini punya kelompok namanya RAFA, singkatan dari Rahmawati, Alyssia, Fejri, dan Asri. RAFA ini dibentuk tanggal 15 Mei 2011. Oke ayo langsung perkenalan:

4. Desthri Rahmawati
              Ini juga kakakku, anaknya baik , pinter juga, emang sedikit egois sih tapi seru kok. Dewasa banget, penurut, enak juga kalau diajak ngobrol.

               Hitam manis , tingginya kayak tiang listrik, sekarang sih dia player basket di SMP 13 Surabaya, mainnya enak nggak kaget kalau dia masuk tim ;)

5. Asri Dinda Septya Kumala
            Ini dia yang paling muda diantara RAFA , tapi pikirannya paling dewasa. Anak ini cuek pol, tapi sebenarnya lucu. Suka iseng , baik kok.

             Oh iya, kalau gambar bagus juga lho , siapa dulu yang ngajarin B-) hehe. Ini jahilnya juga sedikit nyontoh aku, haha :)).

6. Reviana Santia Putri
                  Ini dia anaknya polisi yang tinggi banget, pinter juga, tapi nakalnya nggak ketulungan :)). Dia ini dari TK sampai SD bareng aku terus. Anaknya manis,polos, nggak suka di foto. Dia juga yang paling deket sama keluargaku begitu juga aku sebaliknya :)

7. Elfrincessa Fairy Deriztya
                   Nah , Si Elfrin ini namanya ruwet banget, tapi dia bangga katanya singkatan belakang namanya sama kayak aku "FD" haha bener juga. Anaknya polos pol, kalau ngomong terlalu jujur. Cantik juga, banyak yang suka lho.. Kalau jalan sama mamanya dikira adek kakak , soalnya tingginya sama. Kalau curhat anak ini panjang banget, tapi aku seneng bisa kasih saran sama dia. Sinetron banget ceritanya :) Dia juga pinter, dia udah ke Singapore sama Malaysia buat presentasi robot hasil karyanya.

8. Bagus Nadifatur Rahman
                Ini anak teman bersaingku, gaes. Tapi yang sebelah kiri, bukan yang kanan. Kalau yang kanan, itu kembaranku. hehe. Rangking di SD selalu kejar-kejaran sama anak ini. Anaknya baik, pinter, tapi emang rada nyebelin. Dan nyebelinnya lagi dia sekarang satu SMP sama aku, untungnya nggak satu kelas. Banyak yang bilang anak ini manja, tapi ya biasa aja sih. Anak ini terlalu jujur, si Bagus ini paling akrab juga sama si Kak Guguk itu.
                Aku, Bagus, Desthri, Indra sama Gerry itu pernah ikut Olimpiade Sains. Sayangnya, kita hanya lolos sampai babak final. Tapi masa-masa yang mengesankan itu bakalan teringat selalu. Apalagi waktu praktikum. Aku paling suka waktu meneliti burung , masih ingat tangan, baju penuh darah. hehe.

9. Indra Anugrah

             Anak ini nakal banget, eh biarpun nakal ternyata hatinya dualem pol lho, kalau cerita pengorbanannya dia itu bikin merinding. Dia kuocak pol. Asik kalau diajak ngomong, pinter. Tapi yang aku nggak habis pikir sama anak ini, kenapa dia itu nangisan :))

10. Achmad Rizki

              Ini dia sahabat yang paling kece. Banyak lho yang naksir dia. haha. Anak ini baik banget, tapi emosian. Kalau diajak cerita juga nyambung. Anaknya sebenernya putih, tapi karena sering keluar rumah ya gitu deh jadi rada hitam sekarang :))

11. Mahibrata Irfan Yahya

             Nah Hibra ini udah kayak adek sendiri. Anaknya baik banget, dia pinter, romantis juga lho. Emang sih agak nakal. Tapi dia pengertian lho, makanya dia ini paling asik kalau diajak ngobrol + cerita apalagi dia selalu nyelipin candaannya di setiap ngomong. No comment deh sama anak ini, terlalu baik kau, hib sama aku :) makasih yaa ;))

12. Ibnu Pratama Adi Saputra, Muhammad Alifiansyah, dan Stefanno Jalu Sambowo.
 ini ibnu :) panggil Landak aja ;)
ini Vanno :) panggil Kembon aja ;)
dan yang ini adeknya landak ;) Alif  :)

             Mereka selalu kompak bareng, baik, lumayan pinter, sama-sama kocak, dan asik kalau main sepak bola. Apalagi si Alif, jelas dia pemain di clubnya. Aku masih inget waktu main bola bareng mereka semua, sama Hibra juga. Mereka juga polos, tapi jahilnya minta ampun.

Dari TK-SD , mari lanjut ke SMP :)

1. Safirah Razana Masturah
            Fira. Yang sempet minta dipanggil Razana. Di SD dipanggil Razma, mamamama :* Dialah sang Beliber, Directioner, Simpsonizer .

            Anak ini baik, manis, rajin, lumayan pinter, agak cuek tapi kalau care, carenya kebangeten juga. Enak kalau diajak cerita. Kalau jalan bareng , dia yang biasanya paling sibuk ngerayu Uminya. hehe. Aku sering banget ke rumahnya, apalagi kalau latihan, habisnya rumahnya yang bawah kayak aula. hihi ;)) Nah anak ini dapet nominasi tersoulmate with :

2. Meydita Ayu Larasati
           Ayu, paling suka dipanggil "Ayam" , kalau lata pasti nyebut Ayam, Ayam juga makanan favoritenya. Katanya dia ini jatuh cita lho sama Ayam :)) waa :3 Tapi katanya kalau di SD dulu disebut Ayul dengan alasan namanya kalau disingkat. Kalau nggak Ayul ya Inem, nah nama ini yang paling unik gara-gara dia dikuncir kuda kebawah dan acak-acakan katanya kayak bi Inem deh :))

                Sesuai namanya, dia Ayu pol. Rambutnya merah sedikit Bule. Dia itu nurun kakaknya tapi dia juga nggak tau dari siapa rambutnya sama kakaknya jadi merah. Anak ini baik, ngangenin, sensitif, gelian, Dia juga enak kalau diajak cerita bareng. Pinter juga bahasa Inggrisnya, maklum anak YPIA :)  Dan satu yang tak lupa, anak ini GALAUERS sejati, sampai-sampai wallpapernya pernah ditulis "Mari BERGALAU Ria". Dia Sang Enchacher , Directioner, Mahomie dan Simpsonizer, dia juga suka Westlife sih. hehe :)

3. Caroline Angelina
             Angel, anak ini baik, suka mukul dan pukulannya aku akuin sakit. Dia ini jatuh cinta sama kakak kelas, dengan inisial N. Setiap hari, setiap waktu, dan setiap detik hanya si N yang ada dalam pikirannya, dan yang dia ceritakan hanyalah si N seorang. Jujur terkadang aku bosan dengan cerita tentang si N.
               Anak ini paling lemot connectnya kalau diajak ngomong, makanya kalau cerita ke dia aku agak males. Tapi dia tetap seru. Dia bilaang, dia ini selalu belajar, maklumlah anak rajin. Tapi karena usahanya yang terlalu giat, sampai-sampai dia lupa yang dipelajarin dan akhirnya nyontek. Kalau nyontek nggak nanggung-nanggung deh, hehe. Si Angel ini, lumayan cantik, kulit putih, tingginya kayak Tiang Listrik sama banget kayak :

4. Rizky Alfathsyah
            Rizky , banyak yang bilang namanya agak alay :)). Anak ini baik, jahil, dan dari ceritanya anak ini memang nakal. Tapi aku rasa kenakalannya itu hanya karena faktor lingkungannya. Dia cerita kalau dia dulu putih, tapi karena sering keliaran keluar rumah jadinya ya gitu deh kulit sawo mateng. Sudahlah terima saja kehitamanmu, bro. haha :))
                 Nah itu dia, the mysterious boy, ya benar dia cowok misterius yang agak sulit ditebak, agak jangkung emang. Anak basket, yang kalau bolos ngumpet takut ketahuan Mas Hanafi. Eh dia ini ditaksir sama guru yang paling terkenang bagi anak kelasku, ya "Bu Sultum", ibu itu bilang katanya si Rizky ini ganteng lho. Dan karena itu dia dapet nominasi terganteng dan terkeren di KONSEF.  Dia ini deket banget sama Dimas, waktu Dimas Noviyanto pindah ke Tangerang dia yang paling merasa kehilangan, ya jelaslah sahabat terdekat gitu :) Dimas itu juga sahabat deketku ngomong tentang Dimas dia sudah pernah aku bahas di posting blog sebelum ini, yang judulya "Dimas Noviyanto Sahabat Kami". Si TL ini juga deket sesama TL , ini dia Sumi :

5. Muhammad Maksum Maulana
                Maksum, kemana-mana emang bareng si Rizky setelah Dimas pindah. Dia juga sahabatku yang deket juga. Anaknya asik kalau diajak ngobrol, baik, saking baiknya dia nggak lupa buat ngasih beberapa jawaban soal ke aku. hehe. Dia yang selalu galau karena pacarnya. Saking cintanya nama twitternyapun ada nama ceweknya lho. Aww :3 Hm, anak ini narsis lho ;) dapet nominasi ternarsis pula dikelas.

                  Oh iya, ngomongin Maksum jadi inget si Ayam. Nah begini ceritanya: Pada suatu hari Ayam memanggil Maksum dengan panggilan sayangnya, yaitu " SUMI " dengan nada melambai, penuh cinta. haha. Ayam sama Maksum ini mirip banget lho, apalagi bibirnya, hehe peace ._.v

6. Ilham Ramadhana Makatita
                   Ilham, hamhamil :)) Pertama kali aku liat anak ini, aku jadi ingat dek sepupuku, namanya Tsany yang di Sidoarjo. Mereka mirip banget, dari muka, tinggi, sampai sifat, cuma beda umur aja.
                 Anak ini lucunya minta ampun, Kalau diajak ngomong pasti agak ruwet, tapi sebenarnya sih nyambung. Baik, pinter, suka foto, sering menang Robotik lho. Dia ini pacarnya ketua kelas namanya Syahda Nabilla Aristawidya. Aw, match couple deh pokoknya ;) Anak ini tersoulmate juga with :

7.  Nur Cholis Shofi

                Anak ini selalu kocak, sama deh kayak ilham. Kalau buka buku waktu ulangan blak-blakan. Dia baik, asik kalau diajak ngobrol, hampir mirip sifatnya sama Ilham sedikit aneh dan mengeluarkan hal-hal yang baru. Satu kata buat mereka "UNIK".

8. Hildan Fahmi

               Ini dia anaknya guru yang bandelnya nggak ketulungan. Dia baik, kocak, tapi emang pemalas. Anak pencak silat lho, sama kayak Maksum. Masih ingat waktu dia sama Maksum beli makanan penyetan di TP harga 30.000 sungguh penyesalan, haha. Itulah akibat malu bertanya, sesat dijalan deh :)

9. Irvine Ray
              Irvine, panggil aja Ipin biar gampang. Anak ini baik banget, dialah sang GALAUERS sama halnya seperti Ayu dan beritanya dulu si Ayu pernah suka sama Ipin ini. 

             Ipin ini suka lagunya Secondhand Serenade, sama Last Child, menurutnya sesuailah sama beberapa kisah hidupnya. Nah aku adalah pelampiasan kegalauannya. Karena hal itu, dia ngasih PU, katanya sih gitu. Kalau cerita mantannya, gak bakal habis deh ceritanya. Anak ini benar tergila-gila sama mantannya itu. Ya, dia ini GJ nya nggak ketulungan sampai dapet nominasi cowok ter-GJ di KONSEF. 

10. Alfian Ramadhan
                 Alfian, panggil saja Cuplis. Nama Cupils ini diambil karena latar belakangnya yang pendek, kecil, tapi imut lho :3 Dia ini baik, kreatif, anak silat juga kayak Hildan, Maksum. Anaknya lucu, tapi sedikit nakal. Ya gitudeh, kecil-kecil caberawit :)) 

                 Nah, dia ini pinter banget kalau disuruh berpuisi. Kalau baca puisi bikin aku merinding deh. Sama kayak si Aprilia. Couple. Tapi si Cupils ini suka sama si Ecing. Tapi sayangnya bertepuk sebelah tangan. Aww :3

11. Rayi Legitasari

               Rayi, dia temen sebangkuku semenjak aku masuk SMPN 12 Surabaya. Anak ini baik, manis banget , kulitnya sawo mateng, pinter, lugu, kalem banget.. maklumlah turunan keraton Solo. Lucu sih anaknya, emang agak jaim, maklumlah kan dia model. Suaranya enak lho secara penyanyi gitu :) Kalau curhat nggak ada habisnya. hihi.

12. Aisyah Anudya Palupi
              Ica, ini dia sahabatku yang paling deket sama aku. Kita adalah couple, hehe. Sebut kita Cumi, ya cumi adalah panggilan sayang diantara kami. Kita memanglah berbeda kelas, tetapi hati kita tetap tak akan berbeda. hehe.

                  Anak ini baik banget, dia pinter, manis juga kan ? dia ini mirip anak cowok di kelasnya, mirip banget. Cara senyum dan matanya itu mirip banget. Dia suka banget nge-pump , kalau nge-pump nggak ngerti waktu, benar tergila-gila sampai pernah kakinya hampir kena kanker kulit gara-gara keseringan ng-pump. Aku kenal dia karena satu eskul di tari, tarinya juga bagus lho. Dia suka SNSD dan Suju, benar-benar K-Pop. Cumi ini, kalau diajak cerita asyik juga, nyambung, tapi kalau bercanda berlebihan. Kadang aku agak sebel sih emang kalau dia bahas mr.blabla secara berlebihan. Sama deh kayak si :

13. Resistania Anggita 
                Resis, yang suka dipanggil Ecing, katanya sih budaya dari SD. Nah bener, dia ini sama kayak si Cumi yang kalau bahas si anu terlalu berlebihan, sampai berandai-andai. Ini dia yang disukain sama si Cuplis tadi.

                  Ya, aku kenal dia juga karena ikut eskul tari. Anak ini selain pinter tari juga pinter dance. Bahasa Inggrisnya juga keren. Si Ecing ini baik, polos banget, kalau ngomong juga terlalu jujur. hehe. Cantik juga kan anaknya. Dia juga famouslah, dia kan juga anak OSIS :)

 Lumayan banyak juga yang aku kenalin.
                   Ya, mereka yang memberi semangat dan keceriaan dalam hari-hariku. Mereka jugalah para teladan dan pahlawanku. Kebahagiaan tak akan lengkap tanpa mereka. Aku akan selalu kuat, karena kalian. Aku berjanji akan melindungi kalian sebagaimana segalanya yang telah kalian beri padaku. 

                 Terimakasih atas canda dan tawa yang telah kalian beri. Terimakasih pula karena kalian telah menjadi Matahariku yang selalu memberi sinar dalam gelapku, dan menguatkanku. Terimakasih pula karena telah menjadi pelangi dalam hidupku yang membuatku tak pernah bosan dengan segala rintangan yang Ia beri. 

                Aku ingin kalian berjanji untuk tetap menjadi Matahari dan Pelangi dalam hidupku. Sahabat, maafkan jika aku pernah membuat goresan luka dalam hatimu. Maafkan aku juga bila aku terkadang bukanlah aku yang kalian inginkan. Aku bersyukur karena Tuhan telah menghadirkan kalian dalam hari-hariku dimana aku mampu untuk melewati segala rintangan hidup. Berjanjilah pula, kawan , agar kita semua mampu tuk buktikan pada dunia bahwa kitalah yang terbaik diantara yang terbaik. Tunjukkan pula arti kebersamaan dan pengorbanan persahabatan pada dunia ! ^o^

Minggu, 22 April 2012

Menunggu Sesuatu Yang Tak Pasti

    Setiap berjalannya waktu , pikiranku terus menerus melantur tak menentu. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan tuk mampu melewati dan melampiaskan keadaan yang bergejolak ini. Kegalauan yang kini benar-benar menyelimutiku. Jelas benar kepastian telah di tangan kita masing-masing. Kau telah mengerti, kawan.

    Setiap tatapanmu, ku coba tuk hindari. Aku takut jika terlalu mendalam, karena ku rasa kini bukanlah saatnya. Aku mengerti, kau telah mengetahui alur dari semua ini. Mungkin memang benar, kita sedang menunggu sesuatu itu di waktu itu. Sesuatu yang dikatakan memang belum pasti. Tapi juga ini yang tak dapat ku serapi. Memang diantara kita saling mengerti. Dan ini membuatku takut, aku takut jika karena kesaling mengertian ini membuat kita menjadi saling berjaga yang membuat pertemanan serasa jauh.

    Kini, aku harap kau mengerti, kawan. Aku belum siap tuk langsung berhadapan dengan dirimu. Ya, karena memang kau telah ada yang memiliki untuk saat ini, aku pun masih menjaga perasaan setiap teman di sekelilingku. Aku tak ingin semua menjadi renggang hanya karena keegoisan diri kita yang tak dapat terkendali. Memang sangat tepat , jika saling menemui yang telah pasti mengapa tidak saling menjalani. Namun masalah yang lain timbul di kalimat itu. Aku juga tak ingin mengganggumu, meski seandainya bisa saja kita langsung berjalan dan mencoret beberapa diantara kisah itu perlahan. Tapi aku tak ingin seperti itu. Ya, perjalanan sangatlah panjang, aku dan kau harus tetap buktikan tuk menjadi yang terbaik.



    Hm, seiring berjalannya waktu , aku rasa kau telah tahu pasti cara bermain sesuai keinginanku. Dan aku bersyukur meski kau sedikit sulit tuk lakukannya. Maaf jika aku bisa dibilang tega melakukan hal yang membuatmu merasa aku menjauhimu bahkan kau merasa bahwa aku membencimu. Itu kesalahan, kawan. Aku hanya ingin yang terbaik dan tak ada kecurigaan di sekeliling kita. Ya, netral itu wajib hukumnya :))

    Sampai pada hal yang telah terbayang itu yang membuatku terkejut dan semakin takut. Hm, masa perpisahan yang begitu indah dan kau datang dengan santainya bertanya dengan ekspresi yang biasa tanpa ada kecurigaan, tapi sungguh pertanyaanmu begitu bergejolak. Di dukungnya pertanyaan dan pernyataan yang membuatku tak bisa menahan, aku hanya bisa menjawab dengan enjoynya dengan tawa namun nyata dan fakta. Setiap kali ku ingat itu, hanya kepasrahan yang mampu ku lakukan , karena setiap ku tanyakan hal itu, hasilnya tetap sama dan memang benar. Memang suasana yang mendukung saat itu terkesan sangat indah. Ya dengan gelombang air yang berlika-liku seperti pertanyaan yang tak pernah ku sangka dapat kau pertanyakan. Namun, karena hal itu semua semakin jelas dan terjawabkan. Lega sekali rasanya.

    Hingga saat ini, aku hanya ingin semua sesuai rencana, tapi yang buruk aku harap kita mampu tuk mencoretknnya. Dan saat itu, aku harap kau tetap menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Amin :) Mari kita taklukan waktu, tantang sang surya dan hadapi dunia bersama bahwa kita mampu tuk melakukan rintangan itu :) Semangat, kawan ! :D


Sabtu, 21 April 2012

Garis Lurus Matematika Dalam Hidup

Pada hari Selasa lalu, ku dapatkan sebuah pencerahan dari Bapak Tjondro seorang guru matematikaku. Dari pelajaran tentang Garis di ambilnya sebuah kesimpulan dan menjadi kunci kehidupan.
Berikut yang disampaikan guruku,
"Lebih baik sejajar dahulu membentuk satu misi.
Jangan terburu bersilangan apalagi berpotongan. Jangan terburu berimpit jika belum memenuhi. Jika terlanjur dapat menyebabkan satu titik yang menjadi sudut dan satu sinar yang menjadi masalah. Kita harus menyeimbangkan antara garis horisontal dan garis vertikal agar semua berjalan lancar. "
Maksud dari beberapa kalimat itu benar-benar menyentuh bagi anak remaja masa kini, yaitu:
"Lebih baik kita berkawan terdahulu untuk membuat persatuan yang kuat.
Jangan terburu untuk berpacaran apalagi melakukan hal yang tidak diinginkan da dilarang oleh agama. Kita harus mengetahui mana yang baik dan buruk dan harus diimbangi ketakwaan pada diri-Nya. Sehingga tidak akan ada sebuah masalah yang menjadi kerusakan dalam kehidupan itu dan menghancurkan masa depan kita yang jelas masih panjang untuk kita jalani.
Semoga bermanfaat ^o^

Perubahan Namun Tetap Satu Misi

Hari-hari dengan rintangan yang silih berganti menghampiri. Kesibukan yang selalu menemani. Dan kegalauan yang tetap saja menyelimuti. Lautan biru begitu menawan . Rerumputan hijau begitu sejuk dipandang. Memang indah dunia, kawan. Segala anugrah telah Ia berikan, hanya saja mungkin kita tak pernah mengerti atau bahkan tak ingin mengerti.

Ketika ku dapati diriku terpuruk dengan segala yang terjadi , aku mulai belajar dengan segala yang terjadi. Aku tak mengerti dan memang sangat sulit tuk dimengerti, beberapa hal terjadi. Hanya saja kakakku mencoba bergurau dan berkata, "ini kebetulan , dek" namun bagiku itu sangat konyol jika kebetulan. Aku sendiri sangat tidak mafhum , aku ingin bercerita banyak hal namun itu sulit tuk diungkapkan, aku juga tak semudah itu berbagi namun aku memang ingin berbagi. Aku tak mengerti, kedepresian diri ini terus menghantui , atau mungkin banyak yang bilang bisa saja menjadi gila jika tetap seperti ini. Aku pasrah dengan segala kemungkinan.

Hingga sebuah gambar tulisan di salah satu halaman kakakku ku baca. Perkataan yang begitu menyentuhku di saat yang terpuruk ini.
"Terimakasih Engkau telah menepati janji hingga menguatkan hatiku hingga saat ini..
 Terimakasih Engkau telah mengirimkan orang-orang yang masih setia menemani dan mendengarkan ceritaku hingga saat ini.. 
Terimakasih Engkau telah meyakinkan bahwa masih banyak amanah yang harus dijalankan..
 Menuliskannya memang mudah, namun bila hal itu terjadi, akan terasa begitu sulit untuk dijalani. - KSP"





Selama sebulan ku coba dan terus mencoba menghibur diri, aku tak ingin orang tua , keluarga , dan kawan ikut bingung dengan keadaanku yang tak menentu ini. Aku hentikan pikiran dan mencoba menjauh, menghilang, dan menghindar. Dan dengan begitu aku mulai mengerti banyak hal. Pelajaran dari sana-sini ku cermati dan munculah satu jawaban. Ya , strategi itu harus diubah.

Pernah ku dapati dari twitter , kalimat yang benar menyadarkanku. "Tuhan jarang sekali mengugkap masa depan. Kalaupun Dia melakukannya, alasannya hanya satu : Masa depan itu telah digariskan untuk diubah." Yeah, that's right. Kalimat ini benar menggugahku dan memberi arti serta jawaban yang selama ini ku cari. Aku sadar dan aku mulai berusaha.Memang jalan masih panjang, tapi tak ada salah jika aku mulai mencoba dari sekarang.

Pengubahan strategi yang kini aku dan kakakku mencoba menelusuri, berharap semua sesuai dengan misi. Memang benar beberapa strategi sebisa mungkin harus tetap diubah namun satu misi tetap harus mampu berjalan. Karena tujuan utama pun harus terlaksana. :)

Benar sekali , ketika kita butuhkan sebuah kebaikan, namun pengorbanan harus tetap hadir dalam dirinya. Ya, karena Tuhan tetap saja punya rencana indah mempesona di setiap pengorbanan yang kita lakukan. Dari novel Raditya Dika ku temukan pula kata-kata yang mengobarkan semangatku "You can't always get what you want, but if you try, sometimes you just might find you get what you need. " 

Hmm .. Ya Allah , aku hanya dapat mensyukuri segala pemberianmu. Namun aku berjanji aku akan tetap berdoa dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Aku juga akan tetap berusaha untuk menjalankan amanat-amanatMu sebagaimana perintahMu. Karena ku percaya bahwa Kau selalu memberi yang terbaik di masa yang akan datang :)

Sabtu, 14 April 2012

Bersua Tanpa Kata Penuh Makna


Teringat pikiran ini akan empat tahun yang telah terjadi lalu yang mungkin memang hingga saat ini masih menjadi pengalaman indah dan terkenang dalam hati. Ketika ku merasakan awal dari sebuah cinta namun tak terbalaskan. Sungguh tragis, kawan.

Pertemuan awal yang tak pernah ku bayangkan, namun tak ku mengerti jika adanya pemberitahuan lewat mimpi. Ya, sebelum aku bertemu dengan seorang anak lelaki lugu berumur 9 tahun dengan tinggi yang saat itu setara denganku dan dengan senyuman manisnya yang ramah untuk menyapaku. Aku tak tahu mengapa aku telah dipertemukan lewat sebuah mimpi dan pada saat itu sikapku menjadi salah karenamu. Mungkin hanya ada satu alasan, ku suka padamu kala itu.

Di sebuah tempat hiburan tepatnya Taman Remaja Surabaya hari itu ku berjumpa denganmu. Permainan Boom Boom Car yang menjadi sebuah pilihan. Aku hanya heran ketika melihatmu dan benar mampu bersua denganmu. Pikiranku melantur dan terus bertanya-tanya dalam hati kecilku "bukankah dia yang hadir dalam mimpi semalam?" , pertanyaan yang lain "lalu mengapa ini benar terjadi, atau memang dia akan menjadi kawan yang sengaja dipertemukan oleh-Nya?" aku tak mengerti. Namun setiap senyuman yang ia berikan kepadaku hanya mampu dapat ku balas dengan senyuman pula. Di awal pertemuan ini serasa keakraban itu telah menyelimuti , namun tak ada perkenalan untuk saling mengerti siapa diantara kami.

Hari-hari pun terus berganti dengan lika-liku kehidupan layaknya gelombang laut dengan pasang surutnya yang justru memiliki arti. Namun meski semua tak seperti yang teringinkan tetap saja sebuah keceriaan harus tetap menyelimuti. Kerinduan ku pun kian hari entah mengapa semakin mengarungi hati dan pikiran ini. Dan tiba pada saat ku berumur 10 tahun, kami bersua kembali tanpa sebuah mimpi di tempat yang sama dan dengan suasana yang tetap sama saja layaknya awal pertemuan kami. Aku terdiam dan hanya bisa menunggu. Aku tak mengerti apa yang harus ku lakukan.

Setelah pertemuan kedua itu berlangsung , hanya ada kegalauan dalam hari-hariku di setiap hembus nafasku. Apalagi setelah ada pemberitahuan tentang mimpi bahwa aku akan bersua lagi. Aku tak mengerti rasa rindu ini memang tak bisa tu dipungkiri. Aku tak suka dengan hal-hal yang tidak pasti. Dan hari yang telah ku tunggu itu pun tiba. Ku bersua dengan dirinya dengan tingginya yang semakin hari kian meningkat dan dengan senyum ramahnya yang menambah kemanisan dari wajahnya.

Di sebuah mall yang tak jauh dari rumah dimana aku tinggal. Mimpi itu terjawabkan saat itu, kau benar hadir, kawan. Kau lebih mempesona dari sebelumnya. Namun kau tetap saja dengan senyumanmu , aku pasrah saja ketika kau hanya mampu tersenyum tanpa kata. Aku tak tahu pula apa yang harus ku lakukan. Namun pertemuan ke tiga ini serasa benar singkat dan tanpa kelanjutan. Terakhir senyumanmu seperti tanda ucap selamat tinggal. Dan memang benar, hingga kini tak ada kabar dari dirimu dan tak ku mengerti lagi siapa dirimu.

Setiap kali ku mimpikanmu, tetap saja kau dengan senyumanmu. Mungkin bisa dibilang pertemuan ketiga itu adalah akhir dari pertemuan kita setelah senyuman selamat tinggal kau luangkan. Mungkin memang benar hanya ada tiga kesempatan dalam pertemuan, dan jika tak tergunakan musnah sudah pertemuan itu.

Aku benar ingin mengerti siapa dirimu. Meski memang ku tak perlu megerti tentang ceritamu. Ingin sekali ku bercerita denganmu. Dan memang ku ingin bersahabat denganmu. Ya, kau adalah “Sahabat Kecilku” yang pernah bersua dengan diriku tanpa perkenalan dan hanya sebuah senyuman yang dapat tersampaikan namun tetap mewakili arti perkataan yang akan terucapkan. Sungguh penuh makna dari setiap pertemuan itu.

Setiap ku dengar lagu “Sahabat Kecil” entah mengapa ku teringat akan dirimu. Dari awal kita bertemu, hingga pertemuan ketiga yang mungkin adalah akhir dari senyuman sapaanmu. Ya, lagu ini cukup mewakili kerinduanku dan ceritaku bersamamu, kawan.

Terkadang aku berharap tuk bertemu denganmu, menyapamu dengan ramah, berkenalan denganmu, dan menjadi sahabatmu, kawan. Dan aku harap pula Tuhan mau mendengar permintaan ini yang aku harap aku pun mampu tuk manfaatkaannya. Hmm.. Kau memang misterius, tapi kau benar penuh keramahan.

Sabtu, 18 Februari 2012

Aku Tahu Kamu Pun Tahu

Hey bloggers, lama sudah tak ku rawat blog ini karna tugas yang kian hari kian menggunung. Mungkin terlalu banyak kisah-kisah bersama kawan dan keluarga yang ingin ku tuliskan. Namun untuk kali ini, cukup ini saja kawan. Karna setelah ku tuliskan post yang kali ini, harapanku adalah lega.

Awal itu yang ku ingat, ketika ku bertemu denganmu dan kau pandang diriku. Aku tak tau apapun soal itu, hanya saja ku benci dengan caramu itu. Itu adalah pertemuan pertama yang bekesan buruk di mataku, karna ku belum melihatmu.

Selanjutnya aku pun jarang sekali melihatmu. Entah saat itu ku rasa kau asing dan tak nampak lagi hingga ku tiba tuk pikirkanmu. Aku tak tahu apa dan mengapa ku pikirkanmu. Yang pasti saat itu ku rindu akan sikapmu.

Dan esoknya ku lihat dirimu, dengan tatapanmu yang seperti laut biru. Ya, laut biru yang damai indah dan penuh keberanian serta tantangan. Meski ada kemisteriusan di balik itu. Aku bingung seketika itu kita bertemu kembali. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Da akhirnya hanya senyummu yang dapat ku balas dengan senyumku. Senyumanmu yang membara dan bersinar tak tertandingi layaknya mentari dengan sejuk dan arti ceria ini.

Dan akhir-akhir ini ,  aku pun bertanya di setiap pertemuan kami. Apa sih yang ku rasa ini? Apa maksud kelakuanmu akhir-akhir ini? Saat kau diam, serasa diri ini mengerti. Namun , ku rasa ku tau pasti kau juga mengerti. Jujur, di balik matamu ku temukan arti, dan itu yang aku takuti. Tapi aku yakin, kita mampu tuk jalani!

Sabtu, 14 Januari 2012

New Year 2012

Ketika aku terlamun dalam indahnya hari ini ,  teringat memori indah yang tak sengaja tersirat di dalamnya.  Dimana juga ada kebimbangan yang tak dapat terungkapkan dan hanya dapat ku lontarkan dengan sebuah teriakan yang mungkin cukup lega bagi diri ini unuk mengeluarkannya.  Namun , banyak berbagai pendapat orang yang hanya mengatakan "perbuatan itu sebagai tindakan terbodoh yang pernah dilakukan oleh orang  bodoh yang tak mengerti arah hidupnya dan melakukan hal yang bodoh yang hanya membuang waktu serta  menguras seluruh raga yang ia miliki."  Ya , terserah saja mereka mengatakan jika aku "bodoh" , ya aku memang bodoh , dan kata-kata yang mungkin bisa dikatakan memalukan itu mungkin ada pada diriku yang tak mengerti maksud semua ini.  Namun mengertilah ,  dengan melakukan teriakan itu ,  kau akan mengerti dengan merenungkan semua kesalahan yang kau perbuat , dengan melakukan itu pun lega sekali rasanya jika diungkapkan.  Semua yang aku lakukan hanyalah semata-mata untuk menutupi hal terburuk di 2011 yang telah ku lakukan dengan penyesalan yang tak ku mengerti harus bagaimana aku menyikapinya.  Mungkin jika dikatakan , saat ini sangat kubutuhkan seorang yang memberiku inspirasi dan sebuah jawaban untuk menjawab tentang apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua tingkah laku yang tak layak jika terbayangkan dalam diri ini sebagai pelajar , juga wanita remaja yang sedang mencari jati diri untuk menjadi yang terbaik. Dan sangat ku harapkan di tahun yang baru ini , ku temukan semua jawaban dari gejolak kebimbangan dan jawaban dari semua pertanyaan yang sulit untuk ku mengerti ini.

25 Desember adalah awal ku memulai liburan ,  ulang tahun seorang ibunda yang melahirkanku juga mendidikku hingga aku tumbuh berkembang menjadi seperti ini.  Tepatnya hari natal , namun aku tak merayakannya .  Karena aku adalah seorang remaja muslim dengan keluarga muslim . Namun aku juga mendatangi keluarga atau bisa dibilang saudara jauh yang masih sealiran namun berbeda agama , mereka beragama kristen katholik dengan iman yang mereka pegang teguh.  Ya ,  natal 2011 di rumah saudara dengan suasana hujan yang menyirami kota tercinta kami "SURABAYA"  dan datang tuk memberi ucapan "Merry Christmas and Happy New Year" untuk mempererat persaudaraan kami ,  dan untuk saling menghormati dengan agama lain.  Ya , itulah konsep keluarga kami ,  saling menghormati itu sangat penting , agar terjalinnya persaudaraan yang selalu terikat tanpa batas.

26 Desember ulang tahun papa tercinta yang menafkahi keluarga serta menjaga dan mendidiku agar menjadi terbaik dan tak mengecewakan keluarga.  Ulang tahun papa yang hanya dirayakan di kota tercinta dengan suasana yang tak terlupa walau hanya sederhana .  Tunjungan Plaza adalah pilihan keluarga kami untuk merayakannya ,  yang kebetulan ada wahana Misteri Gedung Tua sebagai wahana yang lumayan menarik. Di dalamnya terdapat hantu jadi-jadian yang mungkin tak menakutkan dan hanya membuatku berteriak juga bukan karena takut ,  namun karna aku ingin melepas semua kegalauan yang tengah ku rasa saat itu.

Setelah wahana Gedung Tua , kami meluncur untuk mengantarkan adek tercinta dimana terdapat Dora The Explorer yang sedang melakukan acara di sana. Betapa bahagianya adek atau mungkin tepatnya keponakanku yang sedang menikmati acara tersebut .  Terlihat sekali dari mimik wajahnya yang sangat menikmati kebahagiaan itu.

Awal liburan selama satu minggu pun hanya kulalui di Surabaya dengan bahagia walau hanya sederhana bersama kanca juga keluarga :)

31 Desember adalah akhir di tahun 2011,  dimana hari itu adalah hari terindah di tahun 2011 yang tak akan ku lupa , namun juga sedikit mengecewakan jika diingat.  Pagi dengan festival tari dengan hasil yang lumayan memuaskan namun tidak terbiasa bagi kelompok kami.  Juara 3 adalah juara yang amat sangat mengecewakan bagi kelompok kami.  Namun , bagaimanapun itulah keputusan dewan juri dalam festival tersebut. Wajah dari seorang kawan-kawanku yang sangat ku hafal dalam berbagai susana ,  dan pada saat itu yang terlihat hanyalah kekecewaan yang teramat dalam dari bola mata mereka.  Jujur , akupun kecewa dengan hasil tesebut , namun pada saat itu hanyalah ucapan pasrah yang dapat terungkapkan , aku pun tak mau mempersulit susana .

Malamnya ,  tahun baru pun stay at Surabaya ,  menuju rumah saudara dengan perjalanan bahagia. Rumah tersebut telah memiliki julukan,  sebut saja basecamp , tempat cucu Marsi berkumpul , dan bercerita panjang lebar.  Hujan yang mengguyuri kota tercinta kami dan banjir yang melanda diberbagai tempat.  Dalam perjalanan hujan lebat serta banjir juga teriak sekencang-kencangnya tuk melepas 2011 yang segera berlalu.  Itulah hal yang dapat ku lakukan dan mungkin menarik , ya "menarik" bagiku.
Setelah sampai rumah saudara ,  giliran tayangan kembang api yang menghiasi awal tahun baru pukul 00.00 WIB .

Esoknya di fajar itu , aku kembali pulang tuk memenuhi janji kawan-kawanku mengadakan tahun baru 2012 yang datang menunggu.  Jombang adalah pilihan waktu itu sebagai pelepas semua yang ada dalam diri kami masing-masing.

Perjalanan yang melelahkan tak masalah bagi kami dan langsung kita hadapi dengan tantangan yang telah menanti.  Sungai yang mengalir dengan tenang , ilalang yang menari dengan sendirinya dengan gemulai membuatku menyadari betapa besarnya kuasa Sang Pencipta dunia ini.  Alam yang membuatku merasa tenang dan memberiku sedikit jawaban yang tertumbuk dalam benak ini.  Terimakasih Tuhan memang besar kuasamu ini.

Sungai adalah pilihan tuk kami bermain air , tertawa bersama dengan kesederhanaan yang selalu tersirat di dalamnya.  Dan kebersamaan yang tak pernah kami lupakan.

Lalu , ku menuju hijauya sawah negri ini dan ku lotarkan semua benak dalam hati ini , entah seberapa kencang kuungkap semua isi hati ini , benar-benar lega sekali , kawan .  Mungkin konyol sekali jika aku dapatkan sebuah jawaban dari tanaman-tanaman yang menari serta sungai yang mengalir dengan tenang.  Namun , ku temukan jawaban dari mereka tentang isi hati ini , mungkin singkat ,  namun penuh arti dan teramat bijaksana jika dinalar oleh pikir ini.  Terimakasih kuucapkan untuk sungai dan sawah yang indah ta terkalahkan.

Mungkin cukup seperti itu saja yang dapat ku bagi.  Harapanku tahun ini , adalah menjadi yang terbaik dari yang terbaik , dan tak ada kata galau juga penyesalan dalam perjalanan ini .  Terimakasih untuk 2011 dengan pahit manisnya , dan kusambut 2012 dengan senyuman. :)