Dengan lagu instrumental aku mencoba menuliskan untaian kata untuk sebuah tugas dari guruku, Mam Narsih namanya. Ini adalah novel yang dengan apa adanya aku tuangkan dari pikiranku dari realitas hidupku juga. Begini critanya ..
Masa Kecil
Masa kecil, ya mungkin masa kecil adalah hal yang pantas untuk aku sebut di masa lampau. Dimana waktu masih dimanja setiap orang, ditertawakan karena kelucuan dan kepandaian seorang anak yang belum mengerti apa pun.
Masa kecil yang begitu indah terasa berlalu begitu cepat ketika aku tersadar telah berumur 12 tahun, yang sedang duduk di kelas 1 SMP. Ku mencoba mengingat semua memori masa kecilku dan cerita orang-orang di sekelilingku. Kemudian aku ambil sebuah album di meja belajarku. Kupandangi satu persatu gambar diriku dan orang-orang di sekelilingku. Tak kusangka lucu juga diriku, batinku.
Menurut cerita mama, aku yang dulunya sakit-sakitan, yang nggak suka makan dan alergi dengan sebuah minuman yang bernama “SUSU”. Ya , itulah ucap mamaku ketika beliau menceritakan masa kecilku. Namun anehnya, sekarang aku justru senang akan sebuah makanan dan minuman yang disebut-sebut susu, tapi ya nggak antusias banget sih. Nah , aku dulu sering keluar masuk rumah sakit. Tapi aku itu anak yang lincah, sehingga orang menganggapku anak yang sehat dan aktif. Padahal sebenarnya aku sakit-sakitan. Memalukan sekali rasanya. Tapi aku sakit juga aku nggak minta kok. Memang aku ini menyusahkan saja, pikirku.
... ... J ... ...
Tiba-tiba aku terlihat pucat, badanku panas, dan hari itu pun aku dengan keadaan lemah. Tak seperti biasanya aku seperti ini. Mama papaku panik, dan membawaku ke sebuah rumah sakit yang tak jauh dimana rumahku berada. Ketika memasuki ruang periksa atau Unit Gawat Darurat, tiba-tiba air mata papa satu persatu menetes. Papaku yang selalu tak tega bila melihat putrinya sakit. Hmm.. Tapi apa mungkin selama aku sakit, papaku menangis terus ?? Ah enggak lah .. Tak mungkin separah itu. Ya paling-paling hanya keadaan saat itu yang membuat beliau menangis.
Saat aku terbaring di sebuah kasur pasien dan diperiksanya oleh sang dokter, aku melihat mamaku yang berdoa disampingku. Juga melihat papaku yang menangis tak tega dengan mulut berkomat-kamit memanjatkan doa di dekat pintu. Aku pun berdoa pada diriku agar Tuhan memberiku lindungan dan kesehatan agar tidak menyusahka orang tua yang aku sayangi. Di saat suasana hening, dokter tersebut memecahkan keheningan itu.
Ia berkata pada mamaku,
“Anak sudah seperti mayat kok baru dibawa kemari. Untung kau cepat kemari”. Nada tinggi dengan suara medok khas Jawa-nya.
Begitu pedas omongan orang tersebut. Apa dia tak berpikir bagaimana jika saat itu dia yang sedang di posisi orang tuaku yang panik seperti itu dan tiba-tiba sang dokter mengatakan hal tesebut? Dasar dokter tak punya hati, batinku. Mama papaku hanya terdiam dengan jawaban dokter itu. Terlihat dari mata mereka sebuah kejengkelan yang sangat dalam karena ucapan tersebut. Ah mungkin terlalu berlebihan aku menjelaskannya.
Kemudian dokter tersebut memberi sebotol obat sirup dan beberapa tablet obat kepada mamaku yang harus aku minum setiap harinya 3x setelah makan. Setelah menyelesaikan biaya administrasi, kami keluar ruangan dan kembali pulang ke rumah. Untung aku nggak nginap di sana yang selalu membuat diriku sebal menjalani hari-hariku. Tak kebayanglah bagaimana jika aku harus menginap di kamar itu lagi. Tak ada untungnya. Bisa dikatakan rugi.
Taman Kanak-Kanak Dengan Kenakalan
Umurku saat itu 4 tahun, yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dan bersikap polos yang masih imut, lucu juga menggemaskan. Berlebihan sekali jika aku mendeskripsikan diriku seperti itu. Namun aku bangga bisa berkata seperti itu. Haha.
Ya , kira-kira 8 tahun yang lalu jika aku hitung dengan umurku yang sekarang ini. Di waktu TK ini, ada beberapa teman yang selalu aku ingat. 2 cowok yang selalu bermain denganku dan selalu “menjaili teman-teman wanitaku”.
Hmm , nama mereka berdua adalah Tian dan Revan. Kedua sahabat cowok yang nakal dan menjadi teladan untukku. Anehnya sih begitu, pikirku. Kenalnya kami, disebabkan oleh sebuah ruang permainan yang penuh dengan bola bermacam warna rupanya. Lebih tepatnya tempat itu disebut tempat permainan “Mandi Bola”, dinamakan dengan demikian mungkin karena berbagai macam bola yang terdapat di ruang itu dan kita masuki layaknya orang mandi. Saat itu aku menaiki sebuah salah satu gantungan di dalam ruang itu. Tiba-tiba mereka berdua menghampiriku. Aku hanya heran mengapa mereka tertuju padaku, tanya hatiku.
Lalu mereka bertanya, “Hai kau, siapa namamu, teman?”. Tanyanya polos.
“Hani, kenapa? Kalian sendiri siapa?”
“Hani, kenapa? Kalian sendiri siapa?”
“Aku Tian, dan sobat dari kecilku ini Revan. Kami cuma ingin berkenalan, mau kan menjadi teman kami? Kau terihat lebih asik dari yang lain”, jelas Tian panjang lebar.
“Baiklah, untuk pertama kalinya ini aku ingin akrab dengan teman-teman lelaki lain”. Jawabku cukup jekas.
... ... J ... ...
Setelah perkenalan itu, aku jadi merasa tenar di TK itu, TK islam yang bernama TK Aisyah dengan 5 guru pelajaran, 2 guru drum band, 2 guru tari , 1 kepala sekolah dan 1 seorang ibu kantin yang sangat baik. Betahnya aku di TK itu dan mempunyai teman yang lucu, polos, dan unik-unik deh sikapnya J. Namun di TK ini yang akrab denganku mayoritas laki-laki, dan beberapa perempuan yang sejalur dengan aku untuk memilih bergabung dengan para kawan lelaki dengan permainan yang lebih seru. Permainan yang selalu membuatku mengerti hal-hal yang baru dan menjalaninya dengan suka duka bersama mereka dengan kekompakan sekelompok anak TK yang bersahabat.
... ... J ... ...
Pernah kala waktu itu, aku, Revan, dan Tian mengganggu seorang kawan perempuan kecilku yang manja namun umurnya lebih tua dari kami bertiga. Nama perempuan kecil itu, Lia. Anak yang cantik, putih, menggemaskan, namun dengan sifat egois dan sifat manja yang selalu membuatku jengkel ketika melihat sosok dirinya. Tapi menurutku dia juga lumayan baik setelah 2 tahun aku menyadarinya.
Kami mengerjainya hingga membuatnya menangis dan ia melaporkan hal tersebut pada ibunya yang kemudian dilaporkan pada wali kelas kami dengan akibat kami kena marah. Ya, lagi-lagi kena marah. Setelah hal tersebut, aku malas untuk mengganggunya lagi walaupun terkadang juga rasa malas itu hilang dan memberontak aku keluarkan dengan amarah yang tak karuan layaknya lelaki yang memintanya untuk berantem di tempat itu yang didukung oleh Tian dan Revan. Hmm , mereka berdua itu selalu membuatku semangat kalau bener-bener marah dengan Mbak Lia yang cantik itu. Ya, memang sangat cantik dan terlihat mempesona dengan kulit putihnya turunan Cina dari marganya.
... ... J ... ...
Pelajaran menggambar dimulai. Persiapan lomba menggambar tingkat Surabaya yang aku ikuti karena menurut guruku aku cukup berbakat dalam bidang tersebut. Di saat latihan itu, aku tak mempedulikan guruku yang sedang menjelaskan panjang lebar tentang cara teknik menggambar dengan baik.
Aku memilih duduk di barisan paling belakang bersama kedua sahabat laki-lakiku dan bergurau tanpa memperhatikan guru yang terus memandang kami. Kami bercanda tawa dengan melukis wajah kami. Ya, aku mewarnai wajah Tian dan Revan dengan sebuah krayon 36 macam warna yang aku goreskan pada pipi mereka yang kurus. Sebaliknya, mereka berdua menggoreskan juga sebuah krayon pada pipiku dan kami tertawa terbahak-bahak kemudian berkata “Ssstttt” dengan serempak saat guru kami memandangi kami. Guru tersebut mendatangi kami dan memerintah kami untuk membersihkan muka kami di kamar kecil sebelah kelas kami.
Aku, Revan, Tian pun keluar. Kemudian memasuki kamar kecil itu dengan kompak dan membersihkan bersama. Huh.. Lega sudah mencuci muka yang penuh dengan coretan krayon yang mengganggu di muka ini.
... ... J ... ...
Kami tak langsung kembali ke kelas. Diambilnya sebuah sepatu di rak sepatu yang bertumpukan oleh Tian. Dari beberapa sepatu, yang ia pilih adalah milik Reviana, lebih akrabnya dipanggil Resa.
“Loh ambil punyanya si Resa.. Kenapa hayo milih yang itu?”, ledekku.
“Wah Tian ini, kecil-kecil kok kayak gitu”, ledek Revan pula.
Tian tertawa, kemudian jawabnya polos serasa tanpa dosa, “Aku seh pingin aja ambil sepatu ini, Cuma pingin nyari masalah.”
“Tetap saja kau ini.”
“Ya sudah, kita sembunyikan saja di situ..” jawab Revan sambil menunjuk sebuah rerumputan di taman TK ku itu.
Tian segera mengambil langkah dan dengan segera menyembunyikannya di balik semak-semak rerumputan tersebut. Kami tertawa sejenak. Kemudian kami mengambil langkah untuk segera memasuki ruang kelas, karena kami takut teman-teman dan bu guru curiga karena terlalu lama kami di luar. Kami mengikuti pelajaran kembali.
... ... J ... ...
Bel istirahat berbunyi. Semua berhamburan ke tempat permainan, ada yang menghampiri ibunya dan ada pula yang ke kantin.
Resa tiba-tiba bertanya ke aku.
“Eh Han, tau sepatuku nggak dimana? Kan biasanya kamu dan kedua sahabatmu itu yang bikin ulah.” Tanyanya terlihat agak sinis.
Aku hanya mengangkat bahu dan segera mengambil langkah untuk menemui Tian dan Revan.
... ... J ... ...
“Eh kasihan loh Resa nyari sepatunya sampai nggak makan.” Ucapku seakan-akan memberi saran.
“Ya sudahlah berikan saja.” Jawab Tian terlihat iba.
“Healah.. gitu doang. Aku ada cara. Ikut yuk!” Ajak Revan dengan nada cerdik.
Aku dan Tian mengikuti Revan di belakang dan diambilnya sebuah sepatu di balik semak-semak itu. Kemudian Revan teriak kepada Resa untuk memberitahu keberadaan sepatunya.
“Woy Res, kalau mau sepatumu kembali. Kejar aku, Tian dan Hani! Ayo kesini!”
“Hah? Lari? Aku?” Jawabku dan Tian serempak.
“Okey! Awas kau!” jawab Resa dari jauh.
“Okey! Awas kau!” jawab Resa dari jauh.
Aku, Revan dan Tian segera lari secepat kilat, entah apa maksud Revan mengajak kami untuk lari-lari. Resa yang larinya cepat dari belakang mengikuti. Revan memutar-mutarkan kami di sebuah perkampungan yang tak aku ketahui sebelumnya. Dasar Revan kurang kerjaan, batinku sebal.
Ku lihat dari belakang Resa cukup letih dan kemudian ia menangis. Setelah itu ia melaporkan hal ini ke wali kelas dan aku, Revan , serta Tian kena marah lagi. Huh nyesel rasanya aku mengikuti ajakan Revan yang menyesatkan. Tapi seru juga bisa berlari-lari megelilingi perkampungan dan membuat seseorang yang mengejar kami kelelahan kemudian menangis. Serasa menjadi pemenang.
Ngomong-ngomong soal Resa, aku jadi ingat ketika Ayah Resa yang tinggi sebagaimana pekerjaannya yang seorang polisi mengayunkan ayunan di TK hingga mengenai atap TK. Mungkin karena ketinggian beliau sehingga ia mampu mengayunkan sebegitu tingginya.
Hmm .. Kalau dipikir-pikir, Revan dan Tian mengajarkanku tentang manis pahitnya persahabatan yang selalu kita hadapi bersama.
Kemenangan Untuk Kalian
Lomba drum band tinggal 1 minggu lagi. Kami semua mempersiapkan diri dan berlatih keras untuk meraih kejuaraan. Latihan yang melelahkan itu adalah perjuangan kami yang masih kanak-kanak untuk meraih kemenangan. Ya kemenangan sebagai tanda terimakasih pada guru TK kami karena telah mendidik kami selama 2 tahun terakhir itu.
Lomba tari pun tinggal 3 hari lagi. Aku harus benar-benar menghafal semua gerakan dan berlatih keras untuk sebuah tampilan yang maksimal.
Di akhir masa-masa TK ini, kami disibukkan oleh berbagai macam lomba. Kami berjanji pada saat itu akan memenangkan perlombaan itu. Kami berdo’a bersama dengan sungguh-sungguh.
... ... J ... ...
Lomba tari pun dimulai. Aku sempat grogi dengan perlombaan ini. Karena lomba ini tingkat kota. Ingin rasanya ku memenangkan pertandingan ini dan akan ku berikan pada kedua orang tuaku serta guru-guruku.
Kami satu group berdo’a dengan meminta sebuah tampilan yang maksimal pada Tuhan. Aku pun janji pada diri sendiri untuk menghasilkan sebuah kemaksimalan yang tidak mengecewakan, serta tidak menyia-nyiakan waktu yang tersita untuk latihan.
... ... J ... ...
Kami pun dipanggil untuk maju di panggung besar itu. Kami menari sesuai latihan. Entah bagaimana perasaan teman-temanku saat pertama kalinya tampil dilihat oleh banyak orang yang tak mereka kenal. Yang pasti, aku merasa bangga dan senang bisa menari di tempat ini. Aku menari sengaja dengan hati/rasa untuk berusaha mencapai kemaksimalan. Sesuai pesan guru kami, “Menarilah dengan hati, karna itu akan membuatmu seakan benar-benar berada pada tarian itu dan itu adalah sebuah tarian yang bagus jika seorang penari benar-benar menerapkan dan merasakannya.” Aku sudah menerapkan dan aku pun merasakan tarian itu ada pada diriku. Tapi apakah diriku benar-benar melakukan itu dan apakah aku ini layak dipanggil seorang penari ? Itu urusan belakanglah. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menurut dewan juri tentang tampilan kami tadi.
Kami turun panggung. Mendapat ucapan selamat dari para guru, orang tua, dan teman-teman. Tak lupa pula kedua sahabat lelaki yang setia menjadi kawanku. Lega rasanya telah menari dan mendapat senyuman dari para penonton.
... ... J ... ...
Saatnya pengumuman. Jantungku dag dig dug tak menentu di waktu itu. Sungguh ingin aku berteriak untuk menghilangkan rasa ini. Jawara-jawara pun diumumkan.. Dan jawara pertama adalah TK kami! Senangnya aku saat itu, dapat memberi kemenangan kepada guru, orang tua, dan teman-teman. Thank’s God, batinku bersyukur lega dan bangga serta senang.
... ... J ... ...
Empat hari setelah perlombaan tari. Lomba drum band menyusul datang. Aku sebagai pemegang alat yang bernama balera yang beratnya minta ampun dan berdo’a agar tidak salah ketuk note saat lomba.
Saatnya kami berjuang. Penuh percaya diri pada diri kami. Penuh semangat, dan keceriaan pada diri kami. Entah mengapa pada saat itu aku lebih rileks daripada lomba tari empat hari yang lalu.
... ... J ... ...
Saatnya pengumuman. TK kami menjadi jawara se Kota Surabaya dalam lomba drum band, tari, juga menyanyi. Meraih 5 penyaji terbaik lomba menggambar tingkat TK se Surabaya yang aku menangkan. Aku bangga bisa memenangkan semua lomba yang aku ikuti. Tapi aku belum puas, karena cita-citaku menjadi seorang dokter yang baik, bijaksana, serta pandai belum terlaksana. Ya, jadi dokter adalah impianku J.
Tahun Ajaran Baru
Masa-masa TK telah berakhir, cepat sekali rasanya jika dirasakan. Padahal aku masih ingin bermain-main dengan mereka dan meraih kejuaraan pada lomba-lomba lagi. Tapi apa daya, aku harus melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Ya, ke jenjang Sekolah Dasar.
SD yang aku duduki adalah SDN Kedung Doro 6. Aku memasuki SD ini dengan beberapa teman TK ku, seperti Tania dan Nadia yang kembar, Hibra , Elfrin, Resa, Rahmat, Agung, Alif, dan ada beberapa lagi. Namun tidak dengan Revan dan Tian, mereka bersekolah di SDN Kedung Doro 5. Seharusnya aku memilih sekolah yang sama dengan mereka, namun orang tuaku yang mengutusku untuk sekolah di situ. Tapi bagaimana pun, kami tetap berteman baik layaknya dahulu.
... ... J ... ...
Awal masuk kelas satu, aku senang sekali bisa mendapat banyak teman di sekolah baruku. Aku juga langsung mengenal teman-teman kakakku, karena kakakku yang famous karena kepandaiannya. Aku juga mengenal guru-guru yang baik dan ramah dengan senyum mereka. Betapa senangnya aku medapat perlakuan ramah seperti itu. Memang bergaul itu menyenangkan, apalagi teman sepergaulan kita memberi pelajaran dalam hidup serta memberi pengetahuan luas yang belum kita miliki.
Resa yang polos dan berani dengan percaya dirinya memperkenalkan dirinya serta diriku di depan kelas agar mendapat teman baru dengan cepat, pikirnya. Tapi menurutku itu malah memalukan, karena seisi kelas malah tertawa dengan perkenalan konyol kami.
Resa memang anak yang ceria dan terlihat dewasa bagiku. Karena Resa seisi kelas mengenaliku dan memperakukanku dengan ramah. Terimakasih, Resa.
Kemudian tahun pelajaran baru ini kami mulai dengan suka cita.
... ... J ... ...
Selama beberapa bulan, pelajaran berlangsung dengan menyenangkan. Sore itu aku lemas dengan keadaan badan yang panas tinggi. Aku dibawa ke saudaraku yang kebetulan adalah seorang dokter. Keadaan seperti itu membuat papaku meneteskan air mata. Pamanku itu mengusulkan aku agar dibawa ke rumah sakit dimana ia bekerja. Rumah Sakit itu adalah Rumah Sakit Haji yang megah dengan bangunan serta indah dengan tulisan arab yang ada setiap menyusuri jalan. Nama setiap paviliun pun adalah nama nama Asmaul Husna yang indah.
Setelah sampainya di RS.Haji, aku memasuki ruang UGD (Unit Gawat Darurat) dengan diperiksanya oleh sang dokter dan beberapa suster perawat yang cantik-cantik.
Dokter itu menemui mama papaku, terdengarnya pembicaraan mereka di telingaku.
“Anak bapak dan ibu positif demam berdarah yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypty , dia juga memiliki gejala typus. Untuk mencegah typus tersebut perlu diberinya sebuah ice cream.” Jelas dokter tersebut panjang lebar.
Kalau begitu setiap hari aku makan ice cream dong, enak juga, pikirku yang masih polos.
“Anak bapak dan ibu juga disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit ini.” Terang dokter itu lagi.
Air mata papaku menetes lagi. Mamaku terlihat kaget dengan kalimat terakhir dokter itu. Begitu pula aku yang paling benci dirawat di rumah sakit. Selain mengeluarkan biaya, makanan di rumah sakit tidak seenak makanan mamaku.
Apalagi setelah teman-teman tahu kalau aku menjalani rawat inap, mereka meneleponku dengan polosnya.
Mereka selalu berkata, “Kelas sepi Han nggak ada kamu. Cepat sembuh ya.” Ucap salah satu sahabatku Alyssia yang memberi harapan agar aku cepat masuk.
Permintaan mereka agar aku segera masuk sekolah membuatku semangat untuk cepat sembuh dan pergi meninggalkan rumah sakit itu.
... ... J ... ...
Pagi itu dokter datang memberi kabar berita menggembirakan bagi aku dan keluargaku.
“Anak bapak dan ibu hari ini boleh pulang karena Hani telah sembuh”. Ucapnya pada orang tuaku. “Hani juga begitu, jaga kesehatan ya nak . Jangan jajan sembarangan”. Ucapnya padaku sembari memberi senyum keramahan.
“Alhamdulillah..” ucap mama papaku dengan kompak.
Senang rasanya aku bisa pulang ke rumah dan meninggalkan rumah sakit. Serta meninggalkan hari-hari yang membosankan di sana tanpa seorang teman.
Selama 7 hari aku menjalani rawat inap, aku selalu meminta agar mama papaku membelikanku sebuah komik sebagai sebuah bacaan untuk mengisi rasa bosan dan menyebalkan karena menginap di rumah sakit.
... ... J ... ...
Dua hari setelah rawat inap , aku kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Aku sekolah dan bertemu dengan teman-teman yang aku rindukan.
Suasana kelas menjadi ramai ketika aku memijakkan langkah pertama di kelasku. Mereka mendatangiku dan memberi ucapan selamat datang kembali di kelas itu. Apa coba maksudnya ? Mereka juga memelukku dan mengucapkan rasa rindunya padaku. Aku pun membalas perbuatan dengan ucapan terimakasih dan senyum keceriaan pada mereka. Senangnya aku saat itu memilki teman seperti mereka.
... ... J ... ...
Setelah satu tahun, hasil belajarku tertulis dalam sebuah rapot yang berwarna merah. Bangganya aku saat itu ketika meraih rangking 1.
Selama 6 tahun pun aku masuk dalam urutan 3 terbaik di sekolahku. Tidak sedikit beda dengan kakakku yang selalu meraih rangking 1 di sekolah SD ku. Memang pandai, yang membuat ia menjadi anak kesayangan kepala sekolahku serta guru-guru SD ku.
Ketika Aku Cinta Menari
Dari TK, ku lanjutkan ke SD dan mungkin seterusnya aku ingin menari. Aku menari karena aku ingin mengembangkan budaya di Indonesia ini. Aku menari karena menurutku itu adalah seni yang indah dengan gerakan lemah gemulai yang memberi ilustrasi/ ungkapan rasa dan isi hati yang layak untuk dipeljari dan didalami dengan hati. Itulah cintaku dengan menari.
Dari TK aku mengikuti sebuah sanggar tari dengan nama Raff Dance Company yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Di Jl. Genteng Kali ,tepatnya di Taman Budaya. Aku mempelajari berbagai tarian kreasi tradisional di sanggar tersebut. Sering sekali aku mengikuti berbagai pertunjukkan serta pertandingan yang selalu meraih kejuaraan.
Di Raff Dance, Aku selama 6 tahun. Kemudian aku keluar untuk menghadapi UNAS. Tapi selain alasan itu, aku juga mengikuti sanggar tari yang bernama Putra Bima Respati yang menurutku lebih seru dengan mempelajari tari Remo dan tarian Jawa Timur lain seperti Jejer , tarian Jawa Tengah, serta Jawa Barat.
Mengapa Harus Ada Pertemuan Jika Harus Berpisah ?
Ketika kelas 3, pertama kalinya saat itu aku menari di luar kota. Permintaan dinas Jatim yang memberiku dan teman-temanku kesempatan untuk mengisi acara di Malang pada pagelaran PPST. PPST adalah Paguyuban Peminat Seni Tradisi yang dilaksanakan saat itu pada tahun 2007. Sebuah pertunjukkan pada siswa dan guru se-Jatim untuk mengenal kebudayaan Jawa Timur yang hampir musnah di masa kini.
Pada kesempatan itu, aku mengenal beberapa teman-teman baru dari Lamongan yang sebaya. Merekalah yang mengiringi aku dan teman-temanku saat menari.
Latihan yang melelahkan dan menyenangkan. Masa-masa yang kami lalui dalam suka dan duka membuat kami bersahabat walau itu hanya satu bulan lamanya.
Setelah pertunjukan itu, orang-orang dinas mengajak kami ke Jatim Park sebagai pesta dan masa-masa terakhir pertemuan dengan kawan-kawan Lamongan. Terakhir kali aku melihat mereka dengan menyanyikan lagu “Kemesraan” dengan isak tangis dan saling berpelukan. Kemudian mereka dan kami yang dari Surabaya saling melambaikan tangan sebagi tanda perpisahan.
Tuhan, kapan kami dapat bertemu lagi ? Menjalani canda tawa serta duka bersama lagi ? Aku ingin persahabatan ini tidak sampai sini saja ? “ Mengapa harus ada pertemuan jika akhirnya harus berpisah, Tuhan ?” Aku berharap aku dapat bertemu mereka lagi. Begitulah isak tangis tanya dan do’aku dalam hati kecilku.
... ... J ... ...
Pada saat latihan, guruku tariku memberi kabar menyenangkan. Orang dinas Jatim meminta kami untuk mengisi acara di Jakarta tepatnya di Taman Mini Indonesia. Acara ini di datangi oleh Presiden serta wakilnya, para duta besar dari luar negri , serta para mentri dari dalam negri.
Latihan selama satu minggu untuk menghafalkan gerak-gerak tari yang akan kami tunjukkan. Satu minggu kemudian kami berlatih bersama pengrawit di dinas. Tak kami sangka, ternyata yang mengiringi kami adalah pengrawit dari Lamongan yang kala itu. Betapa senangnya aku saat itu bisa bertemu mereka lagi. Groupku datang, mereka dengan cepat memberi sapaan dan senyum ramah pada kami “Woy, apa kabar kalian ? Dua tahun cukup lama juga kita tidak bertemu? Kami kangen loh pada kalian.. “ ucap salah satu pengrawit dengan ramahnya.
Kemudian kami berlatih hingga larut malam. Rasa letih kami tak akan mengalahkan kami karena rasa senang kami dapat bertemu mereka lagi.
Esok harinya kami berlatih lagi, ada beberapa pengrawit lagi dari Mojokerto yang menambah keramaian dan menambah teman bagiku.
Tuhan, terimakasih Engkau telah memperkenalkan aku pada mereka semua. Begitulah ucapku dalam hati dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya.
... ... J ... ...
Hari H itu datang, aku berada di Jakarta bersama mereka semua. Kami berusaha untuk menampilkan tampilan terbaik pada para pejabat yang datang saat itu.
Setelah pentas, kami mendapat ucapan selamat serta terimakasih dari para pejabat dan berfoto bersama. Oh iya, satu hal yang tak aku lupakan ketika Mbak Wening berbicara dengan duta besar dari luar negri itu.
“Good , I like your dance and I’m very enjoyed when you’re dancing.” Puji pejabat tersebut.
Dengan polosnya Mbak Wening menjawab, “ Oh, Yes . Iya betul itu.”Jawaban tersebut adalah maksud karena ia tak mengerti maksud yang dikatakan oleh pejabat itu.
Langsung aku menyela pembicaraan mereka,” Thank you very much, sir. I hope you’re really enjoyed with my dancing. And I’m so sorry with the answer of my friend. She can’t speak English”. Jelasku panjang lebar.
“No problem, It’s okay friend. Once again, You’re a good dancer. Could I ask your picture ?" tanyanya bangga.
“Oh, of course.”
Mbak Wening yang dengan melongo menatap aku dan pejabat itu berbicara dengan lancar.
Kemudian kami berfoto bersama. Kami berjabat tangan dengan mereka para pejabat yang beribawa. Sungguh menyenangkan.
... ... J ... ...
Lelahnya diriku saat itu, kuletakkan tubuhku pada sebuah kasur asrama dimana itu adalah kamarku dan teman-temanku selama masa karantina.
Pagi pun datang. Ku pandangi semua tempat tidur, tak ada satu pun orang dalam kamar asramaku saat itu.
Berbagai macam jawaban menghantui kepalaku. Apakah aku dibiarkan mereka di Jakarta dan tekurung dalam kamar ini? Atau aku ini hanya mimpi ? Atau aku bangun kesiangan sehingga mereka meninggalkanku bermain di TMI sesuai rencana ? Kejam sekali mereka bila melakukan semua itu.
Kemudian ku buka pintu kamar asrama yang ternyata tak dikunci oleh kawanku. Setelah aku buka, berdiri seorang guru tariku Mbak Farida yang membawa sebuah roti ulang tahun dan diikuti teman-teman sanggar serta teman-teman dari Lamongan dan Mojokerto dibelakangnya. Dengan serempak mereka berkata , “Surpraise..”
Aku dikagetkan dengan suara mereka. Aku menangis entah mengapa. Mungkin terharu ? Atau mungkin sebal karena dibiarkan tertidur lelap dan tidak dibangunkan oleh mereka ? Perasaan yang tak karuan saat itu yang terlupakan akan hari ulang tahunku.
“Happy Birthday,Han ..” ucap mereka satu persatu yang memberi selamat hari lahir kepadaku. Kemudian berdo’a bersama untuk masa depanku.
Di lilin yang akan ku tiup itu, do’aku terucap dalam hati. Tuhan, terimakasih telah memberiku umur panjang. Memberiku teman-teman yang baik seperti mereka. Aku ingin tetap menjadi sahabat mereka dan memberi warna pada hari-hari mereka. Tuhan, aku juga ingin membahagiakan orang tuaku. Aku ingin menjadi anak yang berguna dan berbakti pada orang tua. Aku ingin mewujudkan mimpi-mimpiku.. Tuhan , Engkau Yang Maha Pemberi lagi Maha Penyayang. Ridhoilah dan kabulkanlah do’aku ini, Tuhan.. Amiin.
Kemudian ku tiup lilin itu dan disambut dengan tepuk tangan teman-temanku. Acara potong kue selanjutnya. Ada beberapa kue yang masih tersisa.
Tanpa ku sadari, tiba-tiba temanku menoletkan kue tersebut ke pipiku. Semua melakukan hal itu dan mereka siramkan tepung serta telur yang mereka letakkan tepat di atas kepalaku. Aku layaknya sebuah roti dalam proses pembuatannya. Betapa anehnya aku saat itu. Namun betapa bangganya juga aku saat itu ketika mereka memberiku sebuah kejutan yang tak kusangka.
... ... J ... ...
Acara ultahku pagi itu tetap berlanjut dengan mendatangi wahana permainan di Taman Mini Indonesia. Ke rumah keong, kereta keliling dan segala macam permainan yang kami jumpai bersama.
Bermain hingga tak terasa sampai jam waktu makan siang. Kami makan bersama lagi. Dengan canda tawa yang selalu ada dalam setiap waktu kami. Yang membuatku takut kehilangan mereka. Aku mengerti hari itu adalah hari terakhir masa karantina kami. Entah kapan lagi mereka akan bertemu kawan-kawan dari Lamogan serta Mojokerto.
... ... J ... ...
Kembali ke Surabaya dan menjalani akan menjalani aktivitas seperti biasa lagi. Pertemuan singkat yang mengenang itu di akhiri lagu “Kemesraan” dan lambaian tangan dari kawan Mojokerto serta Lamongan. Sampai jumpa di waktu yang akan datang, kawan..
Do’a kami selalu sama. Berharap agar bertemu lagi dan tetap dapat seperti biasanya bersahabat di hari dimana kami akan bertemu lagi.
Apakah teori yang mengatakan “Ada Pertemuan dan Ada Perpisahan” itu adalah sebuah kebenaran yang akan dihadapi setiap orang ? Benarkah teori itu ? Teori itu selalu bertanya-tanya dalam hatiku. Pertanyaan tentang teori tersebut, berkecamuk dalam hati dan membuatku memberi jawaban pada teori tersebut. Jawaban Ya yang terjawab dalam hatiku karena saat itu, teori tersebut benar-benar ada dalam kehidupanku.
Enam Tahun Terkenang
Sepulangku kembali dari Jakarta, berarti tanda dimana aku harus menjalani aktivitas di Surabaya lagi. Bertemu teman-teman di Surabaya yang menunggu aku selama kurang lebih satu bulan.
Tertinggal banyak materi yang harus aku benar-benar pelajari dan pahami. Mau tak mau itu adalah resikoku. Ya, hari-hari yang begitu cepat.
Segala macam try out dan latihan soal-soal yang buat mematangkan aku untuk menghadapi UN tahun 2011 ini. Rasa lelah yang selalu aku rasakan dalam waktu itu ketika aku menduduki kelas 6 SD.
Tambahan pelajaran yang mempererat kedekatanku dengan teman-temanku. Mengikuti bimbingan belajar setelah tambahan pelajaran di sekolah.
Tiada henti untukku belajar. Waktu itu terasa begitu cepat ketika aku menjalankannya. Singkat sekali jika aku ingat. Namun perjuangan dengan waktu singkat itu tersirat bebagai macam cerita dan masa-masa indah dimana membuatku ingin tetap menjalaninya.
... ... J ... ...
Ujian Nasional pun tiba. Perasaan dalam hatiku yang tak dapat terhentikan. Dag dig dug detak jantungku selalu terasa pada masa itu.
Hari pertama adalah ujian Bahasa Indonesia dengan 50 soal yang harus aku kerjakan dalam waktu 2 jam. 15 menit yang kupergunakan untuk mengisi data diri pada lembar jawaban dan 105 menit untuk mengerjakan soal-soal dengan cerita yang cukup panjang.
Fokusku yang hanya tertuju pada soal-soal dan tidak mempedulikan sekitarku yang mungkin bertanya padaku. Terlihat dari gerak-gerik mereka yang memberi isyarat agar aku memberi sebuah jawaban pada mereka. Aku hanya terdiam tanpa memberi respon pada mereka. Kembali ku tatap soal yang kurang 10 nomer belum terjawabkan olehku. Dengan segera aku mengerjakan da mencoba menerapkan ketelitian dalam setiap bacaan.
Selesai, ucapku dalam hati lega. 1 jam lebih 5 menit terselesikan dan kembali aku teliti semua. Aku merasa cukup puas dengan jawabanku. Mulutku berkomat-kamit dan membaca dalam hati segala doa yang dapat aku ucapkan demi kesuksesan ujianku.
... ... J ... ...
Tak terasa bel berbunyi dan itu adalah tanda dimana waktu ujian telah habis. Hati ini bertanya-tanya. Apakah jawabanku tadi itu benar? Apakah aku tadi mengerjakan dengan teliti ? Dan bagaimana hasil ujianku nanti ? Akankah aku dapat membahagiakan orang tuaku dengan hasil yang baik ? Atau sebaliknya ? Tak mengerti yang akan terjadi. Semua ku pasrahkan pada-Mu , Tuhan.
Setelah aku keluar ruangan, tak kusangka ada sosok orang yang rupanya aku kenal dan sangat aku sayang. Dialah ayahku yang setia menungguku selama dua jam. Aku kira dia ta menungguku karena dia harus bekerja di hari itu. Namun karena alasa yang tak pasti, ia lebih memilih menungguku ujian dan berdoa untuk diriku.
Selama di jalan, ia menanyakan banyak hal tentang berbagai macam hal yang pasti menyangkut dengan soal ujian. Pertama, bagaimana soal yang kau kerjakan tadi, nak ? Sulit kah ? Kedua, Bisa kah kau mengerjakannya? Apa yang sulit untuk kau kerjakan? Dan ketiga, bagaimana keadaan ruang ujian selama ujian ? Apakah teman-teman dan dirimu dapat tertib mengikutinya? Dan masih banyak lagi segala pertanyaan tenang berbagai hal.
Sesampai di depan rumah, ia menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu. Kemudian ia kembali pergi untuk bekerja. Hanya untuk menungguku ujian. Sampai-sampai ia rela memotong jadwal kerjanya.
... ... J ... ...
Ujian telah selesai. Aku lega dapat melewatinya dengan tuntas. Semua yang aku alami saat itu serasa begitu indah. Selama ujian, kedekatanku dengan teman-temanku begitu erat. Dimana harus kompak, saling tolong menolong, selalu tersenyum untuk menghadapi hal yang tersulit, dan pantang menyerah. Di sekolah SD-ku selalu diajarkan kebersamaan dan kekompakan. Begitu senang rasanya melewati masa-masa itu.
Setelah ini, aku dapat lagi menyempatkan diri ke lapangan bersama kawan-kawan untuk bermain bola bersama. Sepak bola adalah salah satu kebiasaanku di SD. Setiap Minggu pun aku sering bermain bola bersama teman-teman. Terkadang bersepeda bersama dan lari pagi. Bisa dibilang sifatku ini buruk, yang memiiliki kesamaan dengan lelaki. Namun aku suka dengan sifatku ini. Karna dengan sifatku yang seperti ini, aku bisa menjaga diri dan selalu bisa tegar dalam berbagai hal.
Keindahan itu terasa pudar ketika aku mengalami penyakit yang tak aku duga. Penyakit yang dulunya hanyalah sebuah gejala, kini benar-benar positif pada diri ini.
Sewaktu itu dibawanya aku ke klinik terdekat yang diantar oleh kedua orang tuaku yang setia denganku. Aku beruntung memiliki kedua orang tua yang sayang padaku, bijaksana dan setia pada anak-anaknya.
Ketika aku aku terbaring di kasur pasien dan diperiksanya aku oleh sang dokter. Setelah diperiksa, dokter berkata padaku.
“Jangan kecapekan ya, jaga kesehaan tubuh. Kalau kamu terlalu capek. Kesehatanmu semakin menurun.”
“Memangnya aku kenapa,dok?”
“Kamu positif typus, nak “
Aku positif typus ? Mengapa aku harus positif typus ? Yang membuatku harus mengurangi kegatanku yag menyenangkan karena tidak boleh terlalu capek ? Mengapa harus aku ? Yang membuat susah kedua orang tuaku ? Penyakit itu membuat tubuhku lemah dan serasa tak berdaya.
Lalu di keluarkannya uang 50 ribu dari dompet mama untuk pembayaran pengobatanku. Diambilnya sebuah tablet yang diberikan padaku untuk aku minum 2x dalam sehari. Obat yang begitu pahit, benar-benar pahit karena obat itu aku rasakan dengan aku kunyah. Begitulah resiko orang yang tidak dapat menelan obat secara langsung. Bodohnya diri ini karna tak dapat minum obat tersebut. Sangat memalukan jika aku tamatkan untuk mematangkan pikiranku dalam hal tersebut.
... ... J ... ...
Setelah merasa pulih aku memilih untuk kembali ke sekolah dengan bertemu kawan-kawanku dan memanfaatkan masa-masa terakhir bersama mereka.
Di masa-masa seperti ini, mengapa aku merasa ada yang aneh dalam diri ini ? Ketika aku bingung untuk menerapkan rasa ini. Ketika aku bingung mengartikan perasaan yang tak menentu dalam diri ini. Ketika aku tak mengerti maksud semua ini. Dan ketika aku selalu merasa suka duka dalam sepi jika pikir ini terusik akan diri seorang kawan lama yang selalu memberi senyum hangatnya, semangat juangnya, keceriaan hidup, dan kekuatan yang membuat diri ini tak sanggup menahan getaran hati.
Ketika rasa yang terpendam itu memberontak, aku tak dapat mencegahnya. Aku mengucapkan seuntai kata yang tak terkira da mungkin membuat dirinya terkagetkan akan hal itu. Ini semua adalah kesalahannya. Mengapa kala itu dirinya memberi sebuah simpati pada diri ini? Mengapa dirinya memberi semangat yang selalu membuatku berjuang tanpa mengenal kata lelah atau pun putus asa? Mengapa dirinya memberi keceriaan pada setiap hari-hari yang telah berlalu selama aku mengenal sosok akan dirinya? Mengapa juga ia memberi kekuatan yang selalu membuat hatiku berdecak tak mengerti dan membuat sebuah kesalahan tingkah pada diri ini yang tak mampu ku kendalikan? Mengapa dirinya melakukan itu semua? Semua ini juga sebuah salahku. Mengapa aku mau mendapat perhatian, senyuman, semangat, keceriaan, atau pun kekuatan yang ia miliki dan membuat diriku selalu bangga akan hal itu ? Terkadang dirinya membuat diri ini merasa terbakar kecemburuan dalam sepi yang hanya ditemani sebuah air mata yang menetes serta mengalir di pipi ini. Namun mengapa juga suka duka telah ia beri pada diri ini ?
Aku yang saat itu sedang di mabukkan oleh asmara yang tak terkendalikan, mencoba mendinginkan pikiran dan mencoba mengingat sebuah prinsip yang sempat aku lupakan dalam diri ini.
Seketika diri ini mengingat sebuah prinsip, segeralah aku meminta maaf akan perkataan yang aku ucapkan saat itu. Penjelasan panjang lebar yang tak aku mengerti bagaimana saat itu aku dapat menjelaskan sepanjang sungai yang mengalir ataupun selebar samudra yang ada di bumi ini.
Saat diam yang dipilih dirinya, aku menemukan jawaban dari matanya yang memberi senyuman. Entah mengapa dia hanya tersenyum. Namun hanya satu kalimat yang terlontarkan dari diri seorang kawan lelaki itu yang membuat diri ini terkagetkan dengan jawaban yang tak terduga itu.
“Maafkan aku, karna aku mencintaimu..”
“Maksudmu?” , tanyaku tak mengerti.
Namun ia hanya meninggalkanku dan memilih tak menjawab pertanyaanku. Ia meninggalkanku dengan segera dan mengambil langkah secepat kilat yang tak dapat aku cegah di saat-saat seperti itu. Aku hanya dapat termenung dengan semua itu, walaupun di tengah keramaian yang hanya ku tepis dengan kesepian yang membuatku bertanya-tanya akan hal itu.
Prinsip yang tiba-tiba menyelip dalam sepi, seakan menggugah hatiku untuk tersadar dalam renungan yang hanya membuang waktuku. Aku bangga memiiki sebuah prinsip yang jarang dimiliki di kebanyankan wanita remaja seumuranku.
... ... J ... ...
Pagi yang cerah ketika aku terbangun di Hari Minggu itu. Segera aku ambil air di kamar mandi rumahku. Kuusapakan air itu ke muka yang baru terbangun dari mimpi indah semalam. Ku ambil juga sebuah pasta gigi dengan sikatnya. Ku gosokkan sikat itu secara berputar-putar pada gigi. Karena segar mengundang, aku pun mandi dengann cepat. Tak sabar menikmati segarnya pagi, aku segera mengganti pakaian dan kemudian ku ambil langkah untuk keluar dari rumah. Aku berlari pagi dengan semangat. Lari pagi ini mungkin lebih dikenal dengan istilah Inggrisnya, “Joging”.
Di tengah perjalanan menuju kembali ke rumah, aku menemukan sosok yang pernah aku lihat kala waktu itu, bahkan sering kali rasanya. Ternyata dia, segera ku temuinya dan ku jawab perkataannya .
“Hei” , sapaku ramah.
“Iya, tumben joging?”
“Pingin aja, kamu sendiri?”
“Iya sama, di rumah hanya membuatku kesepian sebagai anak tunggal. Oh iya sudah makan?”
“Belum.”
“Ya sudah kalau begitu makan bareng aku aja.”
“Eh anu, bukan itu tujuanku kemari. Aku hanya ingin menjawab perkataanmu yang membingungkan itu. Aku punya prinsip yang mungkin telah kau mengerti.”
“Oh, tak usahlah kau bahas itu lagi. Biar saja semua itu tejadi. Aku juga mengerti prinsipmu itu. Jadi maafkan aku ya.” Jawabnya dengan senyum lagi.
“Seharusnya aku lah yang minta maaf.”
“Sudahlah tak usah dipikirkan. Sekarang mau nggak makan bareng aku?”
“Eh nggak usah deh.”
“Beneran? Aku traktir loh”
“Iya bener enggak, makasih buat tawarannya.”
Segera ia menarik tanganku dan mengajakku ke sebuah depot di pinggir jalan. Menu pecel yang kita pesan dan canda tawa yang menemani kami makan. Memang baik dirinya. Namun batas kami sebagai teman, tak akan mengubahnya. Ya, terutama dengan prinsip.
... ... J ... ...
Di tengah pelajaran, tiba-tiba badan ini lemas. Semua dengan buram ku pandang sekitar. Tak dapat melihat, yang kemudian hanya bayangan hitam. Dan selama itu aku tak sadarkan diri.
Sekitar kira-kira satu jam, aku tebangun dan telah berada di rumah sakit. Typus itu datang lagi dalam diri ini, namun yang kali ini mungkin lebih parah. Selama satu bulan aku dilarang banyak tingkah dan mengurangi segala aktivitasku. Tak terbayang betapa sulitnya peraturan itu untukku yang banyak tingkah sebagai anak yang bandel.
Aku memilih untuk rawat jalan daripada rawat inap yang menyebalkan walaupun di rawat jalan ini harus ekstra jaga kesehatan serta obat yang berbagai macam. Sangat menyedihkan bila teringat karena aku yang benci sakit tersebut.
... ... J ... ...
Sore itu, mama menyuruhku mandi. Aku meminta air hangat yang telah disiapkan mamaku. Namun aku membatalkannya, karena aku tak kuat untuk berjalan. Mamaku mengantarku.
Di tengah perjalanan menuju kamar mandi, bayangan hitam buram menghantuiku. Kunang-kunang muncul tiba-tiba. Aku terjatuh ke tangan mamaku dan tak mengerti maksud hal ini. Bertanya dalam hati yang bimbang ini. Tuhan, apakah aku masih kau beri kesempatann untuk hidup? Atau aku akan meninggalkan merekan semua? Aku masih ingin hidup, Tuhan.. Beri aku kesempatan. Pertanyaan dan doa yang baru saat itu terlontarkan dalam diri ini. Aku masih ingin bersama mama, papa, kakak, dan semua keluargaku. Aku masih sayang mereka dan kasih sayang mereka yang membuatku kuat menjalani hidup.
Tak ku sangka aku sadar diri. Terimakasih, Tuhan Engkau kabulkan permintaanku ini, syukurku dalam hati. Mama yang langsung memelukku ditemani papa yang masih sibuk membersihkan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Aku sangat bersyukur dapat memiliki kedua orang tua yang sayang denganku. Ingin rasanya aku membalas mereka kelak. Maka dari itu, mimpi yang selama ini harus aku wujudkan dan harus benar-benar aku perjuangkan. Segera ku peluk kedua orang tuaku dan seketika air mata menetes di pipiku.
... ... J ... ...
Satu bulan tak terasa telah berlalu dalam hari-hari dimana aku sakit itu. Aku masuk sekolah, dimana danem/nilai telah diumumkan. Betapa bahagianya aku ketika aku meraih 3 besar danem terbaik. Pilihanku untuk mencoba masuk SBI semakin kuat, namun hasil yang menentukan. Aku tak dapat memasuki Sekolah Berstandar Internasional itu. Dengan lapang dada harus aku terima meskipun pada saat itu aku jengkel sekali, karena nilai terminim untuk memasuki Sekolah Berstandar Internasional kurang 0,10. Kurang satu nilai saja namun sudah fatal. Mungkin Tuhan tidak berkehendak akan hal itu. Jadi terima sajalah apa adanya.
Akhirnya pilihanku untuk masuk SMPN 12 didukung oleh keluargaku. Rolas yang termasuk sekolah favorit dan dengan semua ekstra yang mendukung kegiatannya, membuatku bangga dapat masuk sekolah tersebut. Apalagi dengan dorongan keluarga. Hmm.. Terimakasih Tuhan semua ini karna kau J .
~~ SELESAI ~~





Tidak ada komentar:
Posting Komentar