Blogger Widgets Summary of My Story And My Inspiration: Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012

SEBILAH PISAU TAJAM

Sebuah inspirasi di masa kelabilan kelas tujuhnya anak menengah pertama, beginilah..

SEBILAH PISAU TAJAM


Ketika burung-burung berkicau riang gembira disertai goyangan pohon yang memberi kesegaran, seorang diri meratapi dan merenungi serta menekuni lamunannya hingga terlalu dalam. Namanya, Fajar.  Seseorang yang selalu merasa rendah karena perbuatannya, yang menurutnya sangat memalukan.  Kemudian sahabatnya yang setia mendampinginya, Fathir, menghampiri dengan rautan wajah penuh keceriaan dan menyapanya.
“Hei Fajar! Janganlah kau murung melulu, tengok masa depanmu, kawan! Panjang!”
“Panjang katamu? Setelah menjadi musuh dalam selimut bagi mereka dan menjadi bahan cercaan di negeri ini? Memalukan, miris sekali rasanya. Kau tahu rasanya dipermalukan ha? Sedangkan aku tak melakukannya?”
“Sudahlah, lupakan semua itu, jernihkan pikiranmu, kawan! Memang benar, kau tak melakukannya dan karena itu kau harus buktikan pada negeri ini! Ini saatnya!”
“Tidaklah, lebih baik aku seperti ini, merawat dan melestarikan alam sekitar. Bersahabat dengan alam dan cintai bumi. Baik bukan? Daripada aku harus membuat hal-hal yang merugikan lagi? Lebih baik seperti ini, sejuk damai dan indah.”
“Kau merawat tanaman-tanaman ini bukan karena kau mencoba tuk mengingat kekasihmu yang menghianatimu kan?”
“Aku tak mengerti, hanya kedamaian yang ku dapat setiap ku melihat tanaman-tanaman ini. Meski memang itu hanya sesaat dan sedikit memberi sebilah pisau yang tajam pada hati.”
“Itu semua karena kau tak pernah mafhum dan terlalu mudah diperdaya cinta yang semata-mata membutakan kau, kawan! Sebilah pisau yang tajam itu bisa terkendali asal kau memanfaatkannya sebaik mungkin! Bukan berarti sebilah pisau tajam itu adalah luka yang melara. Ingat banyak yang membutuhkanmu di luar sana!”
“Membutuhkanku katamu?”
“Paling tidak untuk saat ini dan selanjutnya.”jawaban singkat penuh tanda tanya oleh seorang Fathir.
Setelah perdebatan yang begitu menggencarkan, Fajar dan Fathir berjalan menuju daerah perkampungan rumahnya. Seiring perjalanan, banyak sekali bualan yang membuat Fajar tak ingin mendengarnya, namun Fathir selalu setia untuk mengingatkannya. Sabar dan sabar.
Sesampainya di suatu rumah, tak disangka ada seorang kawan lama yang sedikit terlupakan oleh seorang Fajar dan tak dimengerti akan kedatangannya, namun Fathir hanya tersenyum karena ia mafhum dengan hal ini. Heidi, kawan lama seorang TNI yang sangat akrab dengan mereka berdua.  Setelah lama tak bersua, mereka berbincang sembari terlihat sedikit tawa yang terlihat menghibur, sampai pada akhirnya inti dari pertemuan itu dibicarakan.
“Fajar, berapa lama kau kurung diri di perkampungan semacam ini?”tanya Heidi basa-basi.
“Entahlah.”singkat sekali.
“Saatnya kau tunjukkan pada negeri bahwa kau tak bersalah, aku mengerti itu.”
“Bagaimana bisa? Apa daya yang aku punya?”
“Keyakinan, kawan. Kau pasti bisa! Cobalah kau jujur pada mereka semua, tentang cinta kau juga, pastilah mereka mengerti.”
“Aku tak bisa, memang aku punya keyakinan dan aku bisa saja jujur pada mereka semua, tapi..”
“Mari kita berjuang bersama melawan Amerika, setelah itu kau boleh jujur pada negeri ini, bahwa kau bukan pelakunya! Jika tak seperti itu, kapan lagi? Negeri ini pun sudah terancam, kawan!”
“Bagaimana bisa? Jika aku mati, apa aku bisa jujur?” tanya Fajar yang menurut logika benar juga. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Fathir. “Kau melihatnya?” 
Namun sayangnya, Fathir hanya tersenyum kecil dan segera keluar dari rumah.  Heidi kemudian Fajar mengikuti langkahnya menuju sebuah tenda, yang mereka sebut benteng. 
Dalam tenda itu perbincangan yang sangat panas terjadi, namun kemudian terhenti ketika mereka bertiga datang. Bersalaman dan kembali menyusun rencana. Fajar melihat disekelilingnya, foto-foto potret diri seorang tokoh-tokoh pahlawan perjuangan yang telah gugur membela tanah air, ia merasa malu pada mereka semua. Dalam hati kecilnya ia berjanji, “Aku berjanji akan membanggakan kalian, menghargai kalian sebagaimana semestinya. Aku akan membela tanah air dengan segenap kemampuanku, Tuhan dengar janjiku dan kabulkan keinginanku.”  Fathir lagi-lagi tersenyum kecil melihat sahabatnya yang sedang berjanji pada dirinya sendiri. Bagi Fathir, Fajar pasti bisa. 
Kembali fokus pada perbincangan yang menyengat, taktik-taktik telah tercurahkan. Sedikit pertanyaan dan pernyataan yang terlontarkan dari mulut ke mulut. Heidi, tokoh yang cerdas terus menerus mencurahkan taktiknya dan mempertimbangkan segala kepastian. Memang Fathir melihat, bahwa negara ini memenangkannya, tapi tanpa usaha juga akan musnah kan?
Kabar dari seorang asisten jendral bahwa Amerika telah melakukan serangannya. Semua terkagetkan segera berhambur dan merespon serangan. TNI yang telah ditugaskan mencari tempat masing-masing. Ya, sesuai rencana, taktik berjalan dan saling tembak menembak pun terjadi. Benar menakjubkan. Amerika begitu hebat dengan senjatanya, meski taktik nol jika diperhitungkan.
Tembak-tembakan terus terjadi. Tak disangka Fathir terluka, dia merasa dia tak mampu untuk melakukannya, beruntungnya Fajar datang dan menolongnya serta berusaha meyakinkannya.
“Aku tak bisa tapi kau harus tetap melakukannya.”
“Kau pasti bisa, Fathir! Kau yang meyakinkanku, kau yang menguatkanku hingga saat ini! Aku janji akan jujur dan berusaha menceritakan semuanya pada publik, sahabat!”
“Kau janji, Fajar?” Fajar hanya mengangguk. “Hubungi tim medis setelah itu kita berjuang bersama kembali!”  Fajar tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya.
Setelah memanggil  tim medis dan menangani luka yang lumayan parah setelah tembakan itu, mereka kembali berjalan menuju tempat penyerangan.Namun tak lama,  langkah mereka terhenti setelah Heidi menahan dan merencanakan taktik baru yang ditunggu-tunggu seorang Fathir. Ya, Fajar yang bagi pihak mereka dianggap remeh dan bisa saja berpihak pada Amerika, kini diperintah Heidi untuk mengikuti pihak Amerika dan menyelidiki rencannya. Fajar hanya bisa mengiyakan dan segera melakukan.
Pihak Amerika benar-benar keras kepala dia benar-benar ingin menguasai Indonesia dengan apapun yang ia punya. Fajar terus mengonfirmasi Heidi dan Fathir tentang berita yang ia dapat. Detik-detik cepat berlalu, rencana Amerika untuk mengebom negara ini akan segera terlaksana. Fajar terus menerus berpikir, dan akhirnya dia menemukannya, kurang 5 menit.
Dia menghubungi Fathir dan Heidi untuk mengikuti Fajar dipihak Amerika dan menembak pasukan,  kemudian membiarkan bom tetap di benteng Amerika. Setelah tinggal beberapa detik, mereka bertiga keluar dan menyaksikan ledakan bom yang begitu besar menghantam benteng pertahanan Amerika. Namun tak disangka-sangka, Jendral Amerika itu belum habis riwayatnya. Jendral itu menyerahkan kemenangan di tangan Indonesia. Tapi, Fajar tak puas, ingin rasanya ia melawan Jendral tersebut yang telah mengubah kehidupannya selama beberapa tahun. Tapi Fathir, setia untuk mengingatkannya. 
Kemenangan Indonesia ini menjadi topik paling hangat di dunia. Dan sesuai janjinya, Fajar jujur serta menceritakan tentang yang sebenarnya di depan para wartawan televisi serta koran yang sedang meliput.
“Kejadian 5 tahun yang lalu adalah sebuah kesalah pahaman. Aku yang diberitakan membunuh Kolonel Amerika dan menjadi cercaan warga Indonesia, itu salah besar. Ya, bukan aku yang membunuhnya, tapi dia.” Sembari menunjuk ke arah Jendral Amerika yang sedang diborgol tangannya sebagai tahanan. “Karena cinta ku melakukannya, benar karena cinta. Istrinya memintanya agar aku yang menjadi tersangkanya, karena istrinya mencintainya. Namun apa daya, aku tak bisa menolaknya meski memang benar aku harus menanggung akibatnya.” Kelegaan dan tepuk tangan riuh menyertainya. 
Fathir dan Heidi menghampiri serta memeluknya. Batin Fajar, “Para pahlawan, memang kau adalah teladanku, kejujuran , keyakinan , ketabahan , serta kebersamaan rasa cinta terhadap sesama mampu untuk menaklukkan segala masalah yang dilanda. Dan sebuah niat yang sangat teguh, selalu setia untuk mendukungnya. Terimakasih, Tuhan. Engkau telah memberikan yang terbaik diantara yang terbaik.”
Fathir yang tak sengaja meneteskan air matanya mencoba mafhum akan yang dilakukan sahabatnya. Lagi-lagi ia tersenyum dan berterimakasih pada Tuhan atas segalanya. Heidi mencoba mencairkan suasana.
“Hei kawan, tengoklah tengok! Tandus bukan? Mari kita menanam kembali, ya.. reboisasilah. Cintai alam. Benar bukan, Fajar sang pecinta lingkungan?”
“Benar, Fajar. Kini kau harus pakai ilmu bercocok tanammu dan ajarkan pada kita!”kata Fathir disertai sedikit tawa.
Tawa kemudian meledak seketika sembari memperhatikan alam sekitar yang memang benar tandus karena serangan kemarin yang begitu besar.  Tak ada salah, jika kita merawat kembali dan mencoba untuk cintai bumi. Paling tidak kita juga bertanggung jawab setelah melakukan ulah saling bertembak.  
Ya, seperti sebilah pisau yang tajam. Dari keterpurukan sang Fajar yang hanya bisa berkarya melalui alam dan pada akhirnya ketajaman itu memberi sepercik tetesan darah kehidupan dari sebuah keyakinan yang menguatkan memberi celah cahaya harapan kehidupan melalui kejujuran yang pada akhirnya terungkap dengan dukungan kebersamaan dari para sahabatnya.  Tuhan memang selalu memberi rencana yang terbaik diantara yang terbaik. 

SELESAI

IMPIAN SANG PENARI

Sebuah inspirasi di kelas 8, dimana ku hanya mampu menuliskan tentang cinta tanah air dan cara membahagiakan orang lain seperti ini..



Impian Sang Penari

“Kring... Kring... Kring...” 
Bel sekolah terdengar keras sebagaimana sebuah tanda pelajaran selesai.  Dengan segera, aku keluar kelas.  Ku pandangi sosok bendera merah putih yang berkibar dengan elok nan beraninya.  Entah mengapa, batinku berbicara bahwa aku cinta Indonesia dan aku harus bisa mengharumkan nama bangsa, aku juga ingin membanggakan kedua orang tuaku di alam sana.
Aku berjalan setapak demi setapak menyusuri langkah menuju gubuk tercinta.  Cukup jauh jika dibayangkan, namun aku tak ingin kenal menyerah, karena aku selalu ingin kenal semangat. Tak lama aku tiba di rumah.  Mulailah aku dengan segala aktivitasku sebagaimana kesendirianku dalam sepi, namun juga dengan segala warna hidupku. 
Esok hari, burung-burung berkicau ria seraya menyambut cerianya pagi yang cerah. Angin berhembus tenang dan pepohonan bergoyang dengan damai yang selalu setia menemaniku di kala semangatku yang membara untuk bersekolah.  Di sekolah, terpapang jelas di mading sebuah pengumuman pendaftaran siswa teladan.  Aku terdiam, dan dalam benak pikiranku mulailah melayang-layang.  Andai ada seleksi penari terbaik, aku ingin sekali menjadi sosok penari profesional. Mungkin saja dari siswa teladan ini Tuhan membawaku menjadi penari terbaik. Namun apakah aku bisa menjadi siswa teladan?  Apakah dengan ini orang tuaku akan bangga?  Apakah dengan ini aku mampu harumkan nama bangsaku?  Tak lama saat ku terdiam, sosok perempuan sebaya menatapku sinis, aku menyadari keberadaan dirinya, ia bernama Sharon, ia sangat kondang dengan segala yang ia miliki, ia memang pandai, tapi kesombongannya membuat orang tak suka padanya.  Kemudian ia mulai berkata pada diriku,
“Kenapa kau di sini?  Mau nengok pengumuman pendaftaran siswa teladan?  Oh, rupanya kau mau daftar?  Ambil sana kaca, janganlah kau mimpi ketinggian!”
Tanpa sepatah kata, aku memalingkan wajah dan langsung berlari.  Berhentilah diriku di sebuah taman sekolah yang sepi.  Aku menangis tersedu-sedu, entah mengapa.  Tiba-tiba tersentuhlah pundakku oleh sosok guru yang berdiri dengan ramahnya di belakangku. Seketika ia tersenyum, senyumannya sangat mempesona sebagai obat jiwa dan pelepur luka.  Sedikit demi sedikit kata yang ku rasakan mulai ku curahkan padanya.
 “Lakukan apa yang terbaik untukmu, nak!.  Raihlah segala mimpimu selagi engkau bisa.  Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.  Jika Ia sudah berkehendak, maka semua akan berjalan dengan apa adanya.  Hadapi rintangan itu, dan buktikan bahwa engkau bisa! Buktikan pada dunia kau mampu harumkan nama bangsamu.  Buatlah kedua orang tuamu selalu tersenyum di sana”.  Tutur dirinya.
Dari situ, aku mulai lega.  Aku mampu tersenyum kembali.  Beliau memanglah guru terbijak yang pernah aku temui.  Setiap tutur kata yang ia ucapkan, selalu menenangkan setiap orang layaknya air yang mengalir dengan damainya.  Beliau bernama Bu Bunga. Seperti namanya, dirinya yang elok karena wajahnya yang selalu menggugah jiwa.  Bersama Bu Bunga aku menuju kelas.  Formulir pendaftaran satu per satu dibagikan, besok data harus sudah terisi lengkap jika anak tersebut ingin mengikuti seleksi.  Pelajaran selesai seperti biasa.  Tetap saja aku pada kebimbanganku hingga saat tibanya aku di rumah. 
Aku duduk.  Lalu aku mulai berandai-andai.  Andai di gubuk kecil ini ada sosok ibu dan ayah yang menemani diriku dalam hari-hariku. Andai di dalam kebimbanganku ada sosok ibu dan ayah yang membimbingku untuk mengambil langkah dan temukan pilihan. Andai dalam sedihku ada sosok ibu dan ayah yang menghiburku hingga diriku tertawa lepas sebagaimana diriku tertawa di kala dulu.  Dan andai kini ku bersama ibu dan ayah.  Aku rindu akan belaian kasih sayang mereka.  Aku benar-benar rindu dengan semua yang dulu pernah kulalui.  Dalam memori pikiran dan hatiku selalu terbayang kisah masa kecilku yang berlalu bersama mereka.  Namun kini....?  Tuhan, mengapa secepat itu Kau renggut nyawa mereka? Sehingga Kau biarkan masa remajaku sendiri dimana kegalauanku teruji?  Mengapa Tuhan? Ah, sudah cukup.  Berhentilah dari semua perandaian dan keluh kesah yang tak seharusnya ku bayangkan.  Aku tak akan biarkan orang tuaku menangis di sana.  Berjanjilah untuk membuat mereka selalu tersenyum dengan keadaan dirimu, dari mulai kini hingga seterusnya, dengan hari-hari yang penuh semangat dan mimpi-mimpi indah. 
Tak henti-hentinya ku pandangi formulir pendaftaran siswa teladan.  Ketika aku tersenyum, mulailah ku tuliskan identitas diriku dengan pena yang sedang mencoret selembar kertas penuh tantangan.  Lengkaplah formulir tersebut serta lengkaplah pula keyakinanku bahwa aku pasti bisa.  Segera ku buka buku ilmu sebagai sumber panutan belajarku. Aku belajar keras dengan keyakinan.  Esok aku akan mengalami seleksi dimana jika aku berhasil aku akan mewakili sekolah di tingkat kecamatan. Entah sampai kapan aku selalu bahagia dalam sepiku dengan semangat untuk maju.
Hari ini, tes berlangsung.  Aku merasa gagal karena aku tidak dapat menguasai semua materi.  Ya, aku gagal.  Aku tidak dapat mewakili sekolah. Sharon dengan senyum sinisnya menatapku sebagai tanda kemenangan dirinya. Aku tertunduk, bukan karena malu, namun karena aku gagal dalam mimpi indah itu.  Apa mungkin karena aku terlena dengan apa yang terjanjanjikan dalam pengumuman siswa teladan kemarin?  Aku berjalan menuju mading, “Lomba Tari Tradisional se-Jawa Timur”.  Apa memang ini yang disebut rencana Tuhan? Ataukah ini hanya cosmological coincidence yaitu kebetulan yang dirancang alam?  Entah apapun itu, kini aku harus benar-benar buktikan.  Ku temui Bu Bunga, dan kita berlatih di aula bersama. Tari tradisional? Aku pilih Tari Remo. 
Dua minggu berlangsung begitu cepat.  Aku mempersiapkan diriku dengan tata rias dan tata busana yang telah tertata rapi.  Aku mulai deg-degan karena setiap peserta menampilkan kemampuan dengan gerak-gerik mereka yang dinamis nan elok lemah gemulai. Peserta yang mengkuti memang begitu banyak.  Dan aku adalah peserta terakhir.   Aku pun tak mafhum mengapa aku mendapat nomor terakhir. Tapi aku harus tetap yakin, sebagai akhir aku harus tampilkan yang terbaik. Dan Bu Bunga pun selalu setia menemaniku serta menyemangatiku.
Tiba saatnya aku menampilkan diri.  Sorak-sorai penonton menyertai penampilanku, hingga membuatku lebih terpacu untuk menampilkan yang terbaik.  Ku ekspresikan diriku di atas  panggung dalam beberapa menit dengan alunan musik serta hentakan bunyi gongseng di kakiku sebagai pengemat irama.  Selesai sudah penampilanku.  Penonton kembali bertepuk tangan.  Selang beberapa menit kemudian, saatnya para dewan juri berunding untuk menentukan sang jawara.
Dewan juri maju dan memberi komentar kepada seluruh peserta dengan sebuah kesimpulan serta sebuah keputusan.  Tak disangka ketika dewan juri menyebut namaku sebagai jawara.  Aku tersentak kaget,  ku peluk erat Bu Bunga sebagai tanda kebahagiaanku. Aku akan maju menuju tingkat nasional.  Aku akan masuk asrama dimana aku berlatih tiap harinya karena aku dituntut untuk menguasai tari tradisional daerahku.  Dalam lomba tingkat nasional, setiap peseta wajib menampilkan tiga tarian daerahnya tetapi panitia yang menentukan. 
Satu bulan kemudian, bertepatan di Jakarta, aku telah siap mengikuti lomba tingkat nasional tersebut. Layaknya kupon undian, tertulis dari Jawa Timur, Tari Topeng Bapang, Tari Jejer Gandrung, Tari Remo.  Saat penampilanku, pendukung Jawa Timur bersorak sorai seraya memberi tepuk tangan.  Aku menari dengan rasaku, iramaku, jiwa dan ragaku.  Ku lampiaskan semuanya di atas panggung itu. 
Menari, seperti mencurahkan isi hati ini dimana aku mampu menemukan kebebasan dalam sepi yang selama ini ku alami. Menari, seperti bermimpi dalam bayang diri yang tak bisa tuk dipungkiri dalam benak hati ini.  Akhirnya dewan juri mengumumkan jawaranya. Aku tersenyum, namun tak sengaja ku teteskan air mata saat mereka berkata aku sebagai jawara untuk mewakili Indonesia menuju tingkat internasional.
Aku kembali bertanya pada batin diriku, “Apakah aku benar-benar bisa membawa nama Indonesia dengan baik? Dan apakah aku benar-benar bisa untuk menjaga keharuman nama bangsa?” Keyakinanku sedikit tergoyang.  Memoriku kembali ke masa laluku mulai dari kenangan indah itu, hingga pengalaman pahit yang cukup lama ku jalani sendiri.  Tidak, aku tidak sendiri.  Hingga aku di sini, selalu ada Bu Bunga yang selalu menyemangati diriku dalam keterpurukanku.  Ku ingat kembali tutur kata yang pernah terucapkan oleh beliau. Semangatku kembali membara layaknya kobaran api, saatnya ku tunjukkan pada dunia, bahwa aku bisa.
Masa-masa berlalu dengan menyenangkan bersama para pelatih ketika aku berlatih keras untuk mempelajari seluruh tarian daerah budaya Indonesia.  Tiba-tiba kabar burung yang bernyanyi dengan riuhnya beredar.  Dari layang itu tertulis tentang sakit parah yang dialami Bu Bunga.  Seketika itu juga aku meminta untuk kembali ke kampung dan menengok beliau.  Perasaanku resah dengan segala kemungkinan yang aku takuti.  Saat aku tiba, bendera putih berpalang merah sudah berkibar di depan rumah Bu Bunga.  Aku menangis karena aku tak mampu menahan rasa duka ini.  Haruskah aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi untuk ketiga kalinya?  Absurd rasanya jika aku bisa melewati semua ini sendiri. Kembalinya aku ke Jakarta, aku tetap saja pada keterpurukanku. Aku terjatuh dalam luka dalamku. 
Hingga dalam tidurku aku bermimpi dengan tangisan kesendirianku, ku temukan ibu dan ayahku yang tersenyum penuh kesejukan. Di sebuah taman kami bermain bersama, rasanya seperti mengulang masa lalu itu.  Ibu berkata, “Ibu bangga mempunyai anak sepertimu.  Tapi langkahmu masih panjang nak, tidak hanya sampai di sini. Jangan lupa sembahyang dan selalu bersyukur kepada-Nya dengan segala yang Ia berikan.” Kemudian ayah menyambung, “Jangan terlalu terlarut dalam kesedihan, hadapi segala yang ada di depan mata, buktikan bahwa kamu bisa melakukannya.  Kembalilah, Indonesia menunggumu untuk tetap harumkan nama bangsa. ” Kami berpeluk erat melepas rindu yang selama ini baru dapat terbalaskan.
Saatku terbangun, para pelatih sudah ada di kamar inapku.  Sebentar lagi kami berangkat menuju bandara. Festival di Jepang telah menanti.  Aku tidak banyak berharap, karena pasti para pesaing sangat hebat dengan tari khas tradisional mereka yang dikembangkan.  Aku pasrah, biarkan Tuhan yang mengatur semuanya.  Karena, semua tak selalu berjalan selarasnya.
Berdetak kencang jantungku saat detik-detik menuju penampilanku.  Nama Indonesia dipanggil.  Di sinilah penentuan dimana berhasil tidaknya diriku.  Aku selalu berusaha untuk tampilkan yang terbaik semaksimal mungkin.  Aku hanya ingin menunjukkan pada dunia tentang bagaimana indahnya kebudayaan Indonesia.  Aku bangga dimana aku mampu mengangkat dan mengembangkan budaya bangsa, serta bagaimana cara aku melestarikannya. Tiada henti-hentinya bersyukur saat aku masih berada di sini. Terimakasih Tuhan, ini sudah lebih jauh dari cukup, namun izinkanlah aku membawa nama negariku untuk menjadi yang terbaik.
Kali ini seorang pembawa acara yang mengumumkan kejuaraannya.  Aku benar-benar pasrah.  Biarkan semua itu berlalu layaknya air yang mengalir dengan pasang surutnya. Karena terlalu absurd jika aku bisa mendapatkan lebih dari sekedar pasang surutnya air itu.  Namun memang tidak seperti pasang surutnya air itu, ini seperti ombak yang menerpa dengan derasnya, yang membuatku tersentak menangis terharu karena ku tak percaya saat pembawa acara berkata,
“The profesional dancer is from Indonesia! Congratulation to Indonesia!”
Aku maju ke atas panggung dengan senyum kebahagiaan dan dengan sorak sorai serta tepuk tangan yang riuh dari penonton dan para peserta.  Aku menerima piala penghargaan serta uang pembinaan. Entah ataukah itu hanya karena aku terbelenggu dalam bayang semu yang selalu ku pikirkan. Aku melihat sosok ibu dan ayah yang tersenyum serta menangis dengan terharu.  Aku melihat sosok Bu Bunga dengan senyumnya yang mempesona serta memberi acungan jempol pada diriku.  Ku balas senyuman mereka, hanya sedikit kata yang mampu ku ucapkan.
“Sebelumnya, ku ucap rasa syukurku ini.  Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terimakasih untuk ibu, ayah, dan Bu Bunga yang berada di alam sana.  Terimakasih untuk Indonesia tercinta.  Terimakasih juga untuk semua yang membimbingku dan setia menemaniku untuk menyemangatiku hingga aku bisa berada di sini.  Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa, karena aku hanyalah sosok diri dalam sepi kesendirianku.  Aku di sini karena aku yakin. Dan piala penghargaan ini untuk Indonesiaku!”
Turunnya aku dari panggung, aku disambut para pelatihku serta para kru dari Indonesia.  Kami saling merangkul sebagaimana sebuah pelampiasan rasa lelah yang hilang dengan kebahagiaan.  Kami semua kembali ke Indonesia dengan rasa bangga.  Semua itu memang seperti pohon yang menerima cahaya untuk meletakkannya di tempat yang benar dan bagaimana pohon itu memprosesnya agar matang sehingga kesempurnaan itu tercipta dengan sendirinya.  Setiap langkah yang ku ambil pun seperti roda yang berputar.  Selalu ada dentuman-dentuman yang tak terbayangkan.  Namun jika kita percaya bahwa kita bisa, apa yang kita impikan pasti terwujudkan dengan porsi yang telah Ia atur sebelumnya. 

Seperti mimpiku sebelumnya, menjadi sosok penari yang profesional hingga internasional mengenali diriku.  Seperti mimpiku sebelumnya yang awalnya berawal dari sebuah hobi semata yang kemudian mengembangkannya.  Indonesia benar-benar kaya akan ragam budaya tinggal bagaimana cara kita melestarikannya. 
“Aku bangga menjadi anak bangsa yang mampu merenggut mimpi indahku dan aku bahagia jika orang-orang yang aku sayangi bangga dengan hasil yang aku raih.  Aku, cinta Indonesiaku”, ucap batinku.


-TAMAT-