SEBILAH PISAU TAJAM
Ketika burung-burung berkicau riang gembira disertai goyangan pohon yang memberi kesegaran, seorang diri meratapi dan merenungi serta menekuni lamunannya hingga terlalu dalam. Namanya, Fajar. Seseorang yang selalu merasa rendah karena perbuatannya, yang menurutnya sangat memalukan. Kemudian sahabatnya yang setia mendampinginya, Fathir, menghampiri dengan rautan wajah penuh keceriaan dan menyapanya.
“Hei Fajar! Janganlah kau murung melulu, tengok masa depanmu, kawan! Panjang!”
“Panjang katamu? Setelah menjadi musuh dalam selimut bagi mereka dan menjadi bahan cercaan di negeri ini? Memalukan, miris sekali rasanya. Kau tahu rasanya dipermalukan ha? Sedangkan aku tak melakukannya?”
“Sudahlah, lupakan semua itu, jernihkan pikiranmu, kawan! Memang benar, kau tak melakukannya dan karena itu kau harus buktikan pada negeri ini! Ini saatnya!”
“Tidaklah, lebih baik aku seperti ini, merawat dan melestarikan alam sekitar. Bersahabat dengan alam dan cintai bumi. Baik bukan? Daripada aku harus membuat hal-hal yang merugikan lagi? Lebih baik seperti ini, sejuk damai dan indah.”
“Kau merawat tanaman-tanaman ini bukan karena kau mencoba tuk mengingat kekasihmu yang menghianatimu kan?”
“Aku tak mengerti, hanya kedamaian yang ku dapat setiap ku melihat tanaman-tanaman ini. Meski memang itu hanya sesaat dan sedikit memberi sebilah pisau yang tajam pada hati.”
“Itu semua karena kau tak pernah mafhum dan terlalu mudah diperdaya cinta yang semata-mata membutakan kau, kawan! Sebilah pisau yang tajam itu bisa terkendali asal kau memanfaatkannya sebaik mungkin! Bukan berarti sebilah pisau tajam itu adalah luka yang melara. Ingat banyak yang membutuhkanmu di luar sana!”
“Membutuhkanku katamu?”
“Paling tidak untuk saat ini dan selanjutnya.”jawaban singkat penuh tanda tanya oleh seorang Fathir.
Setelah perdebatan yang begitu menggencarkan, Fajar dan Fathir berjalan menuju daerah perkampungan rumahnya. Seiring perjalanan, banyak sekali bualan yang membuat Fajar tak ingin mendengarnya, namun Fathir selalu setia untuk mengingatkannya. Sabar dan sabar.
Sesampainya di suatu rumah, tak disangka ada seorang kawan lama yang sedikit terlupakan oleh seorang Fajar dan tak dimengerti akan kedatangannya, namun Fathir hanya tersenyum karena ia mafhum dengan hal ini. Heidi, kawan lama seorang TNI yang sangat akrab dengan mereka berdua. Setelah lama tak bersua, mereka berbincang sembari terlihat sedikit tawa yang terlihat menghibur, sampai pada akhirnya inti dari pertemuan itu dibicarakan.
“Fajar, berapa lama kau kurung diri di perkampungan semacam ini?”tanya Heidi basa-basi.
“Entahlah.”singkat sekali.
“Saatnya kau tunjukkan pada negeri bahwa kau tak bersalah, aku mengerti itu.”
“Bagaimana bisa? Apa daya yang aku punya?”
“Keyakinan, kawan. Kau pasti bisa! Cobalah kau jujur pada mereka semua, tentang cinta kau juga, pastilah mereka mengerti.”
“Aku tak bisa, memang aku punya keyakinan dan aku bisa saja jujur pada mereka semua, tapi..”
“Mari kita berjuang bersama melawan Amerika, setelah itu kau boleh jujur pada negeri ini, bahwa kau bukan pelakunya! Jika tak seperti itu, kapan lagi? Negeri ini pun sudah terancam, kawan!”
“Bagaimana bisa? Jika aku mati, apa aku bisa jujur?” tanya Fajar yang menurut logika benar juga. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Fathir. “Kau melihatnya?”
Namun sayangnya, Fathir hanya tersenyum kecil dan segera keluar dari rumah. Heidi kemudian Fajar mengikuti langkahnya menuju sebuah tenda, yang mereka sebut benteng.
Dalam tenda itu perbincangan yang sangat panas terjadi, namun kemudian terhenti ketika mereka bertiga datang. Bersalaman dan kembali menyusun rencana. Fajar melihat disekelilingnya, foto-foto potret diri seorang tokoh-tokoh pahlawan perjuangan yang telah gugur membela tanah air, ia merasa malu pada mereka semua. Dalam hati kecilnya ia berjanji, “Aku berjanji akan membanggakan kalian, menghargai kalian sebagaimana semestinya. Aku akan membela tanah air dengan segenap kemampuanku, Tuhan dengar janjiku dan kabulkan keinginanku.” Fathir lagi-lagi tersenyum kecil melihat sahabatnya yang sedang berjanji pada dirinya sendiri. Bagi Fathir, Fajar pasti bisa.
Kembali fokus pada perbincangan yang menyengat, taktik-taktik telah tercurahkan. Sedikit pertanyaan dan pernyataan yang terlontarkan dari mulut ke mulut. Heidi, tokoh yang cerdas terus menerus mencurahkan taktiknya dan mempertimbangkan segala kepastian. Memang Fathir melihat, bahwa negara ini memenangkannya, tapi tanpa usaha juga akan musnah kan?
Kabar dari seorang asisten jendral bahwa Amerika telah melakukan serangannya. Semua terkagetkan segera berhambur dan merespon serangan. TNI yang telah ditugaskan mencari tempat masing-masing. Ya, sesuai rencana, taktik berjalan dan saling tembak menembak pun terjadi. Benar menakjubkan. Amerika begitu hebat dengan senjatanya, meski taktik nol jika diperhitungkan.
Tembak-tembakan terus terjadi. Tak disangka Fathir terluka, dia merasa dia tak mampu untuk melakukannya, beruntungnya Fajar datang dan menolongnya serta berusaha meyakinkannya.
“Aku tak bisa tapi kau harus tetap melakukannya.”
“Kau pasti bisa, Fathir! Kau yang meyakinkanku, kau yang menguatkanku hingga saat ini! Aku janji akan jujur dan berusaha menceritakan semuanya pada publik, sahabat!”
“Kau janji, Fajar?” Fajar hanya mengangguk. “Hubungi tim medis setelah itu kita berjuang bersama kembali!” Fajar tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya.
Setelah memanggil tim medis dan menangani luka yang lumayan parah setelah tembakan itu, mereka kembali berjalan menuju tempat penyerangan.Namun tak lama, langkah mereka terhenti setelah Heidi menahan dan merencanakan taktik baru yang ditunggu-tunggu seorang Fathir. Ya, Fajar yang bagi pihak mereka dianggap remeh dan bisa saja berpihak pada Amerika, kini diperintah Heidi untuk mengikuti pihak Amerika dan menyelidiki rencannya. Fajar hanya bisa mengiyakan dan segera melakukan.
Pihak Amerika benar-benar keras kepala dia benar-benar ingin menguasai Indonesia dengan apapun yang ia punya. Fajar terus mengonfirmasi Heidi dan Fathir tentang berita yang ia dapat. Detik-detik cepat berlalu, rencana Amerika untuk mengebom negara ini akan segera terlaksana. Fajar terus menerus berpikir, dan akhirnya dia menemukannya, kurang 5 menit.
Dia menghubungi Fathir dan Heidi untuk mengikuti Fajar dipihak Amerika dan menembak pasukan, kemudian membiarkan bom tetap di benteng Amerika. Setelah tinggal beberapa detik, mereka bertiga keluar dan menyaksikan ledakan bom yang begitu besar menghantam benteng pertahanan Amerika. Namun tak disangka-sangka, Jendral Amerika itu belum habis riwayatnya. Jendral itu menyerahkan kemenangan di tangan Indonesia. Tapi, Fajar tak puas, ingin rasanya ia melawan Jendral tersebut yang telah mengubah kehidupannya selama beberapa tahun. Tapi Fathir, setia untuk mengingatkannya.
Kemenangan Indonesia ini menjadi topik paling hangat di dunia. Dan sesuai janjinya, Fajar jujur serta menceritakan tentang yang sebenarnya di depan para wartawan televisi serta koran yang sedang meliput.
“Kejadian 5 tahun yang lalu adalah sebuah kesalah pahaman. Aku yang diberitakan membunuh Kolonel Amerika dan menjadi cercaan warga Indonesia, itu salah besar. Ya, bukan aku yang membunuhnya, tapi dia.” Sembari menunjuk ke arah Jendral Amerika yang sedang diborgol tangannya sebagai tahanan. “Karena cinta ku melakukannya, benar karena cinta. Istrinya memintanya agar aku yang menjadi tersangkanya, karena istrinya mencintainya. Namun apa daya, aku tak bisa menolaknya meski memang benar aku harus menanggung akibatnya.” Kelegaan dan tepuk tangan riuh menyertainya.
Fathir dan Heidi menghampiri serta memeluknya. Batin Fajar, “Para pahlawan, memang kau adalah teladanku, kejujuran , keyakinan , ketabahan , serta kebersamaan rasa cinta terhadap sesama mampu untuk menaklukkan segala masalah yang dilanda. Dan sebuah niat yang sangat teguh, selalu setia untuk mendukungnya. Terimakasih, Tuhan. Engkau telah memberikan yang terbaik diantara yang terbaik.”
Fathir yang tak sengaja meneteskan air matanya mencoba mafhum akan yang dilakukan sahabatnya. Lagi-lagi ia tersenyum dan berterimakasih pada Tuhan atas segalanya. Heidi mencoba mencairkan suasana.
“Hei kawan, tengoklah tengok! Tandus bukan? Mari kita menanam kembali, ya.. reboisasilah. Cintai alam. Benar bukan, Fajar sang pecinta lingkungan?”
“Benar, Fajar. Kini kau harus pakai ilmu bercocok tanammu dan ajarkan pada kita!”kata Fathir disertai sedikit tawa.
Tawa kemudian meledak seketika sembari memperhatikan alam sekitar yang memang benar tandus karena serangan kemarin yang begitu besar. Tak ada salah, jika kita merawat kembali dan mencoba untuk cintai bumi. Paling tidak kita juga bertanggung jawab setelah melakukan ulah saling bertembak.
Ya, seperti sebilah pisau yang tajam. Dari keterpurukan sang Fajar yang hanya bisa berkarya melalui alam dan pada akhirnya ketajaman itu memberi sepercik tetesan darah kehidupan dari sebuah keyakinan yang menguatkan memberi celah cahaya harapan kehidupan melalui kejujuran yang pada akhirnya terungkap dengan dukungan kebersamaan dari para sahabatnya. Tuhan memang selalu memberi rencana yang terbaik diantara yang terbaik.
SELESAI